Pengantar :
Dengan maksud menjawab tantangan akan kecurigaan dan kecemasan para orang yang kwatir akan kuatnya pengaruh lingkungan "Kita" yang tercemar oleh berbagai limbah, maka kami yang bergabung dalam wadah organisasi kesenian yang bernama SANGGAR SAMUDRA mencoba untuk terus aktif berkreatifitas.
Sesuai komitmen awal, SANGGAR SAMUDRA mencoba mandiri. namun bagian dari masyarakat, "Kami" tetap menjadi "milik" masyarakat juga. sehingga secara sadar kami memiliki hubungan yang timbal balik, Yaitu hubungan yang dilandasi oleh sikap keterbukaan.
Sanggar Samudra bukanlah organisasi "Gelap", atau kelompok Eksklusif (yang memiliki kriteria khusus seperti bobot, bibit, bebek). Tetapi sebuah sanggar serba sederhana dengan visi dan misi yang jelas dan menjunjung tinggi moralitas serta intelektualitas para anggotanya.
akhirnya, semua yang telah kami lakukan adalah sebuah proses belajar untuk bekal kami menjadi "Manusia".
Nama Organisasi : Sanggar Samudra
Resmi didirikan : Jakarta, 22 April 2001
Pendiri :
1. Adiyat Kurdi Tyo.
2. Panji Wijaya.
3. Ahmad Nur.
4. El-Irfan.
Alamat : Jl. Kemayoran Utara Raya No.1
Kel/Kec. Kemayoran, Jakarta Pusat. 10620.
Prestasi :
No. Prestasi, Nama acara, Tempat acara, Tahun
1. Juara 1, Lomba Baca Puisi se Kel. Kemayoran, Kel. Kemayoran, 1995
2. Juara 1, Lomba Baca Puisi se Kel. Kemayoran, Kel. Kemayoran, 1996
3. Juara 2, Lomba Baca Puisi se Jabotabek, Fak.Sastra UI Depok, 1997
4. Juara 1, Lomba Dongeng Perpus se Jak-pus, Perpus Umum, 1997
5. Juara 1, Lomba Dongeng Perpus se DKI, Perpusnas, 1997
6. Juara 1, Lomba Dongeng Nasional, Gdg. MENPARPOSTEL, 1997
7. Juara 2, Lomba Baca Puisi se DKI, Museum Joang 45, 1999
8. Juara 2, Lomba Baca Puisi se DKI, Gelar Apresiasi Anak Nasional, 2000
9. Juara 1, Lomba Dongeng Perpus se Jak-pus, Perpus Umum, 2000
10. Juara 2, Lomba Dongeng Perpus se Jak-pus, Perpus Umum, 2000
11. Juara 3, Lomba Dongeng Perpus se Jak-pus, Perpus Umum, 2000
10. Juara 1, Lomba Dongeng Perpus se DKI, Perpusnas, 2000
11 Juara 3, Lomba Dongeng Perpus se DKI, Perpusnas, 2000
12. Juara 1, Lomba Dongeng Nasional, Gdg. MENPARPOSTEL, 2000
13. Juara 2, Lomba Dongeng Nasional, Gdg. MENPARPOSTEL, 2000
14 Juara 2, Lomba Baca Puisi se Jak-Pus, GR Jakarta Pusat, 2001
15 Juara 1, Musikalisasi Puisi Pekan Muharam, Yayasan Al-mudatsir, 2002
16. Juara 1, Baca Cerpen Betawi se Jak-Pus, GR Jakarta Pusat, 2002
17. Juara 1, Puisi Kelompok SLTA se Jak-Pus, Ged. Menza, 2002
18. Juara 1, Kreativitas Pelajar SLTA se Jak-Pus, Ged. Menza, 2002
19. Juara 2, Kreativitas Pelajar SLTP se Jak-Pus, Ged. Menza, 2002
20. Juara 2, Puisi Kelompok SLTP se Jak-Pus, Ged. Menza, 2002
21. Juara 2, Baca Cerpen Betawi, GR Jakarta Pusat, 2002
22. Juara 2, Musikalisasi Puisi Pekan Muharam, Yayasan Al Mudatsir, 2002
23. Juara 2, Kreativitas Pelajar SLTA se DKI, Ged. Nyi Ageng Serang, 2002
24. Juara 2, Kreativitas Pelajar SLTP se DKI, Ged. Nyi Ageng Serang, 2002
25. Juara 3, Musikalisasi Puisi Pekan Muharam, Yayasan Al Mudatsir, 2002
26. Juara 3, Baca Cerpen Betawi se Jak-Pus, GR Jakarta Pusat, 2002
27. Juara H1, Baca Cerpen Betawi se Jak-Pus, GR Jakarta Pusat, 2002
28 Juara H1, Baca Cerpen Betawi se DKI, GR Jakarta Barat, 2002
29. Juara 1, Baca Puisi se Jak-Pus, Auditorium GRJP, 2003
30. Juara 1, Lomba Baca Puisi SD se Jak-Pus, Perpus Jak-pus, 2003
31. Juara 1, Lomba Acting Bulan Bahasa, SMAN 5, 2003
32. Juara 3, Lomba Baca Puisi SLTA se Jak-Pus, Perpus Jak-pus, 2003
33. Juara 3, Penulisan Puisi bulan bahasa, SMAN 5, 2003
34. Juara 1, Baca Puisi Putra se Jak-Pus, GR Jakarta Pusat, 2004
35. Juara 1, Lomba Lukis Putra se Jak-Pus, GR Jakarta Pusat, 2004
36. Juara 1, Baca Puisi SD se DKI, Museum Joang 45, 2004
37. Juara 2, Baca Cerpen Betawi Putra se Jak-Pus, GR Jakarta Pusat, 2004
38. Juara 2, Puisi perjuangan SD se-DKI, MuseumJuang, 2004
39. Juara 2, Baca puisi SD se-JakPus, Perpus.jakpus, 2004
40. Juara 2, Baca Puisi Putra se-Jakpus, GR.JakPus, 2004
41. Juara 2, Deklamasi SD se-DKI, Museum SumpahPemuda, 2004
42. Juara 2, LukisTong, Paser Baroe, 2004
43 Juara 2, LombaLukisPutri Se-JakPus, GR.Jakpus, 2004
44 Juara H1, Baca Puisi Perjuangan SD Se-DKI, Museum Juang 45, 2004
45 Juara H2, Baca Puisi Putra se Jak-Pus, GR.JakPus, 2004
46 Juara H2, Baca Cerpen BetawiPutra se-Jakpus, GR.Jakpus, 2004
47 Juara H2, Pagelaran Musik Islami SD se-Jakpus, Auditorium GRJP, 2004
48 Juara 2, Baca Cerpen Kedaerahan-Rakkfes, GR.JakPus, 2005
49 Juara 2, Lomba Karya Ilmiah Pelajar, Kantor KOMNAS HAM, 2005
50 Juara 1, Baca Puisi SMK se-DKI, Museum Bahari, 2006
51 Juara 1, Baca CerpenBetawi se-JakPus, GR.JakPus, 2006
52 Juara 1, Baca Cerpen Betawi se- DKI, Ged.Nyi Ageng Serang, 2006
53 Juara 3, Baca Puisi SMA se-DKI, Museum Bahari, 2006
54 Juara H1, Baca Cerpen Betawi se-JakPus, GR.JakPus, 2006
55 Juara 3, Baca Cerpen se-DKI/DISORDA, GR.JakTim, 2006
56 terbaik, Poster Festival Teater Jakarta XXXIV, Auditorum GRJP, 2006
DataPentas dan Kegiatan :
No. Judul Pentas /Nama Kegiatan, Tempat, Sutradara /Ketua Pelaksana, Jenis, Tahun
1. Mamat Pergi ke-PRJ, PRJ Stand DKI, Adityo, Lenong, 2001
2. Malin Kundang, Patung Ikada Monas, Adityo, Lenong, 2001
3. Tawuran SD Patung Ikada Monas Adityo Lenong 2001
4. Cari Muka Jl. Kemayoran Utara Adityo Lenong 2001
5. Grebek Jl. Kemayoran Utara Adityo Lenong 2001
6. Persimpangan Aula SMKN 3 Adityo/El-Irfan Teater 2002
7. Pelajar Tempo Doeloe Jl. Kemayoran Utara Panji Lenong 2002
8. Kambing Korban Jl. Kemayoran Barat Adityo Lenong 2002
9. Misteri Dalam Gang Jl. Kemayoran Utara Adityo Lenong 2002
10. World Cup Ged. Menza & Aula ged. Nyi Ageng Serang Adityo Lenong 2002
11. Kelibet Utang Plaza Gajah Mada Panji Lenong 2002
12. Cari Jodoh Plaza Gajah Mada Adityo Lenong 2002
13. AA,II,UU Auditorium GRJB Panji Teater 2002
14. Narkoba/Gara-gara nafsu Auditorium GRJU Panji Lenong 2002
15. Semua Bisa Terjadi Jl. Kemayoran Utara Adityo Lenong 2002
16. Jampang PRJ stand DKI Adityo Lenong 2003
17. Dukun Jl. Kemayoran Utara Panji Lenong 2003
18. OperaN SMK Aula SMKN 3 Panji/Ahmad Lenong 2003
19. Bazar Amal Jl. Kemayoran Utara Adityo Acara 2003
20. Jerat Aula SMKN 3 Ahmad Nur Teater 2003
21. Kolor Biru Jl. Kemayoran Utara Panji Lenong 2004
22. Keluh-kesah raja-raja Auditorium GRJB Adityo Teater 2004
23. Orang Asing Auditorium GRJP Panji/Ahmad Teater 2004
24. Buka Bersama dan Santunan Anak Yatim Jl. Kemayoran Utara Panji/Ahmad Acara 2004
25. Nasib Lapangan SMKN 3 Ahmad Nur Teater 2005
26. Diskusi Napi Jl. Kemayoran Utara Panji/Ahmad Teater 2005
27. Posko Peduli Bencana Kebakaran Jl. Kemayoran Utara Adityo Acara 2005
28. Penyelenggara Lomba Lukis Dinding (Mural) Jl. Kepu Raya Adityo Acara 2005
29. Penyelenggara Lomba Apresiasi Guru PDS.H.B Yasin TIM Adityo Acara 2005
30. Jakarta oh Jakarta Jl. Kemayoran Utara Panji/Ahmad Lenong 2006
31. Nyanyian Angsa Auditorium GRJP Adityo Teater 2006
Senin, 14 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
5 komentar:
GIMANA SANGGAR SAMUDRA APA PROGRAM KEGIATAN KEDEPAN?
bang Tyo berikut alamat website dep. pertanian
www.litbang.deptan.go.id
untuk nyambung pembicaraan kemaren, bisa hub BB SDLP Bogor atau Kantor BPTP di Palangkaraya (jl. raya Obos Km. 5)
tur
Jumat, 2008 September 12
LAWAN CATUR
Karya Kenneth Arthur
Terjemahan WS RENDRA
Diketik ulang oleh Giri Ratomo
SAMUEL
Bagaimana, Antonio ( tersenyum ) Rupanya kau telah kehilangan kecerdikanmu
ANTONIO
Sebentar,Yang Mulia
SAMUEL
Pionnya barangkali..
ANTONIO
Bukan ( main ) Nah… sudah
SAMUEL
Aha ! Begitu ? Bagus…bagus…! Kecerdikanmu telah kembali bukan ?
ANTONIO
Apakah waktunya sudah habis, Yang Mulia ?
SAMUEL
Belum. Kita masih punya waktu 10 menit untuk permainan ini.
ANTONIO
Yang Mulia sudah bosan main catur rupanya…
SAMUEL
Tidak. Aku tidak pernah bosan main catur. Dengar, Antonio. Apabila aku bosan main catur, itu artinya aku bosan hidup.permainan catur adalah tantangan bagi ketajaman otak dan kekuatan sikap jiwa manusia : sebagaimana taktik cinta, taktik perang, politik dan lain sebagainya. Apabila permainan caturku buruk, aku akan berhenti jadi Menteri Urusan Kepolisian. Kita orang pemerintah tidak hanya meletakkan nyawa dalam kekuatan tangan kita, namun juga harus mengasah kepala untuk menjalankan tugas seefektif mungkin. Kita harus tetap menjaga agar sempurna, persis geraknya, licin jalannya. Ya…ya..begitulah caranya kita mengabdi pada pekerjaan kita. Apabila mesin – mesin dalam kepala kita mogok atau macet, kita tak pula lagi berarti apa-apa.
ANTONIO
Tetapi pikiran Yang Mulia melayang agaknya…
SAMUEL
Begitukah ? baiklah, baik ( main dengan cepat ) Nah..lawanlah ini kalau kau bisa.
ANTONIO
Sebuah gerakan yang dapat menyelamatkan Raja Yang Mulia…
SAMUEL
Kau rasakan sekarang. Aku melamun, aku bermimpi, pikiranku melayang dan kemudian datang gerakan secepat kilat. Ketangkasan taktik pada lintasan akal sekejap itulah letak kekuatannya.
ANTONIO
Itu namanya inspirasi, Yang Mulia !
SAMUEL
Mungkin. Tetapi di balik inspirasi itu kita tidak boleh melupakan taktik permainan.
Verka masuk
VERKA
Apakah Yang Mulia memanggil saya ?
SAMUEL
Apakah ada orang yang bernama Oscar Yakob ?
VERKA
Seseorang yang bernama Oscar Yakob membawa surat keterangan dari yang mulia, menunggu di ruang sekretaris.
SAMUEL
Saya memperkenankan kau membawanya kemari 10 menit lagi.
VERKA
Harap dimaafkan, Yang Mulia. Tuan Sekretaris mohon bertanya apakah perintah yang diberikan Antonio memang benar ?
SAMUEL
Perintah apa ?
VERKA
Bahwa orang yang bernama Oscar Yakob itu tak perlu di geledah ?
SAMUEL
Tak ada alasan untuk menggeledah orang itu ( Verka pergi )
Giliranmu main Antonio. Kita masih punya waktu dua menit untuk main catur dan satu menit untuk tanya jawab.
ANTONIO
Ahaa …saya dapat menskak mat Yang Mulia dalam lima langkah.
SAMUEL
Tapi dua menit sudah habis. Sekarang katakanlah, apakah agen-agenmu tidak salah dalam mengusut keterangan mengenai orang yang bernama Oscar Yakob itu ?
ANTONIO
Sangat pasti, Yang Mulia. Saya mohon kepada Yang Mulia kemarin, karena telah diketahui oleh agen-agen saya bahwa orang yang bernama Oscar Yakob itu masuk kompotan anti pemerintah, dan dia mendapat tugas dari pimpinannya untuk membunuh Yang Mulia. Dua orang bawahannya telah kami tangkap dua minggu yang lalu, dan yang tak mesti diragukan lagi adalah mengenai orang yang bernama Oscar Yakob itu. Laporan mengenai sejarah hidupnya, sejak dia lahir sampai sekarang telah kami serahkan kepada Yang Mulia. Tentu Yang Mulia telah memahaminya.
SAMUEL
Ya… ya…riwayat hidupnya telah kuhapal di luar kepala. Meskipun begitu, aku telah menganugerahkan kepadanya untuk mewawancaraiku secara pribadi. Juga telah aku perintahkan dengan tegas untuk tidak menggeledahnya. Singkatnya, aku telah melakukan pekerjaan yang sangat tolol, bukan ?
ANTONIO
Saya tidak berhak meragukan kebijaksanaan Anda, Yang Mulia
SAMUEL
Ah ..?! kau tak berhak meragukan kebijaksanaanku ? tapi dalam hati kau meragukannya. Aku melihat semua itu di balik pandangan matamu ketika kau berkata dalam hati : ”Yang Mulia SAMUEL Glaspel, dibalik omongannya yang manis, sudah tidak seperti biasanya lagi. Dia telah mundur. Dia telah kehilangan sesuatu yang menyebabkan kehilangan kekuatannya !” Apa kau kira aku takut ?
ANTONIO
Yang Mulia…
SAMUEL
Terus terang, aku sendiri kadang-kadang berpikir begitu. Bahwa sekali waktu tak akan ada lintasan akal yang muncul seperti kilat, dan bahwa aku akan dibikin skak-mat untuk selama-lamanya. Itulah sebabnya kau kusuruh kemari untuk berjam jam main catur denganku. Aku sangat terganggu untuk melakukan permainan dengan..Oscar Yakob itu.
ANTONIO
Jadi, Yang Mulia punya alasan pasti untuk bertemu dengan orang itu ?
SAMUEL
Toh, kau tak akan bisa memahami alasanku ini.
ANTONIO
Orang itu ditugaskan untuk membunuh Yang Mulia
SAMUEL
Biarlah…
ANTONIO
Tapi dalam hal ini saya mengusulkan kepada Yang Mulia…untuk…tentu akan lebih aman apabila…
SAMUEL
Cukup ! Jangan bicara padaku seperti anak kecil. Aku tahu apa yang tengah kau pikirkan. SAMUEL Glaspel tidak seperti biasanya, ia telah kehilangan. Ia telah kehilangan sesuatu yang menyebabkan kehilangan kekuatannya. Ia telah lamban dan ia butuh dijaga..Nah,.. waktunya telah habis. Kau kerjakan saja apa yang telah kutugaskan kepadamu. Jangan lebih dari itu.
ANTONIO
Apakah papan caturnya harus saya singkirkan, Yang Mulia ?
SAMUEL
Jangan..jangan disentuh ataupun diubah. Kita akan menyelesaikannya nanti ( Antonio berdiri ragu-ragu ) Nanti kau akan ku panggil dengan bel. Baiklah. Kulihat kau akan berkata sesuatu. Kau kira permainan kita tak dapat dilanjutkan ? kita lihat saja nanti.
ANTONIO
Saya mohon kepada Yang Mulia agar….
VERKA MASUK BERSAMA OSCAR YAKOB
VERKA
Oscar Yakob menghadap....
OSCAR YAKOB DATANG DENGAN GAGAH
SAMUEL
Ooo..begitu ? Jadi kau yang bernama Oscar Yakob itu ? Bagus..bagus…begitu …!
OSCAR
Ya, saya Oscar Yakob
SAMUEL
Bois nastardas, Oscar Yakob.
OSCAR
Bois nastardas, Samuel Glaspel.
SAMUEL
Ternyata begitu sukar menjumpai saya, bukan ? Sukar bertemu muka dengan Samuel Glaspel !
OSCAR
Tidak sesukar sebagaimana yang saya bayangkan, Yang Mulia.
SAMUEL : ( KEPADA ANTONIO DAN VERKA )
Nah..apalagi yang kalian tunggu ? Orang ini mempunyai sesuatu yang penting yang mesti disampaikan, tapi dia sepertinya seorang yang pemalu. Dihadapan orang banyak, tampaknya dia tidak bisa berkata apa-apa.
ANTONIO
Yang Mulia…Saya akan menanti di koridor.
SAMUEL
Nonsens. Nonsens…! Pergilah ke taman, carilah inspirasi untuk permainan kita nanti. Ayo, pergilah !
ANTONIO DAN VERKA PERGI
SAMUEL : ( PADA OSCAR YAKOB )
Saya ingin memandangmu baik-baik
OSCAR YAKOB CURIGA
SAMUEL
Ah..tidak ada orang lain yang mengintai kita. Kamar ini letaknya paling ujung dan berada di pojok bangunan. Di belakang, tak ada apa-apa selain jendela. Tak ada balkon dan tak ada lemari. Bukalah pintu dari mana kau tadi masuk. Tak ada orang di koridor. Boleh kau kunci jika kau menghendakinya..! Nah, kita tidak akan diganggu lagi. Baiklah, sekarang duduklah dan katakan apa yang kau inginkan.
OSCAR TAK BISA BERKATA APA-APA
SAMUEL
Tiba-tiba jadi bisu, ya ? Tak tahu bagaimana memulainya. Kemalu-maluan atau bagaimana ?
OSCAR
Tidak. Saya berkata dalam hati.
SAMUEL
Ah.. berkata dalam hati.
OSCAR
Saya bertanya dalam hati, mengapa Yang Mulia memberi kesempatan ini.
SAMUEL
Kesempatan ?!
OSCAR
Kesempatan saya untuk membunuh Yang Mulia.
SAMUEL
Begitu ? Kau mau membunuh saya ! jadi itukah soalnya ?! Baiklah. Dari tadipun saya sebenarnya sedang memikirkan hal itu, sekarang tentu saja saya menjadi lebih yakin lagi. Bagus. Nah, teruskanlah !
OSCAR ( TENANG DAN BIASA )
Tuhan menyerahkan anda ke tangan saya.
SAMUEL
Bah ! Janganlah Tuhan kita itu kita ikut-ikutkan. Buang kalimat tolol dan omong kosong itu. Saya sangsi, apakah Tuhan masih punya perhatian terhadap orang macam kita. Sayalah yang menyerahkan diri saya sendiri kepadamu. Persoalannya tidak lebih dari itu. Sebetulnya gampang saja saya bisa menjebakmu. Tapi tidak. Bahkan tak perlu sebenarnya pistolmu itu kau sembunyikan di balik kantongmu.
OSCAR ( SINIS )
Yang Mulia rupanya bersuka hati.
SAMUEL
Bukan, bukannya bersuka hati. Saya hanya tergoda ingin tahu, bagaimana kau memainkan pistolmu itu. Nafsu ingin tahu ini begitu meluap-luap barangkali. Keluarkan barang itu, Oscar Yakob. Silahkan !
OSCAR
Yang Mulia, ini mendebarkan hati kita berdua.
SAMUEL
Dan mengharukan, begitu ? Ya.. begitu mengharukan hati. Bagus, bagus Oscar Yakob.
OSCAR ( MENGELUARKAN PISTOL )
Jauhkan tangan anda dari bel itu. Dengan segala hormat Yang Mulia Samuel Glaspel.
SAMUEL
Saya tak akan melakukannya. Kau takut mereka akan datang kemari kalau saya menekan bel ini, bukan ? Tidak… Apa saya terlalu tolol mengira kau takut ? Baiklah, baiklah. Kalau tangan ini saya gerakan, kau tentu akan menembak.
OSCAR
Ya !
SAMUEL
Nah, teruskanlah, saya tidak akan melakukannya.
OSCAR
Tak akan ada seorang pun di atas bumi ini yang akan bisa menyelamatkan Anda, Samuel Glaspel !
SAMUEL
Demikian juga halnya denganmu, Sobat. Kau toh tak akan bisa meninggalkan ruangan ini dengan selamat…ya..dalam keadaan sehat wal afiat.
OSCAR
Saya akan mencoba keluar dengan selamat, Samuel Glaspel.
SAMUEL
Tidak. Itu terlalu berlebihan rasanya. Saya memang membiarkan kau masuk, tapi saya tidak akan membiarkan kau keluar. Kau akan kehilangan kawan yang berguna, Oscar Yakob !
OSCAR
Yang Mulia !
SAMUEL
Begitu ?! Sinting sekali. Saya pikir orang-orang sejenismu membenci saya. Atau barangkali, kau hanya menjilat dengan cara menunjukkan perasaanmu itu ? Boleh. Jilatlah dengan caramu.
OSCAR
Tak ada hasrat untuk menjilat Anda.
SAMUEL
Ah, begitu ? Jadi saya akan menjalani sesuatu tanpa dijilat dahulu ?
OSCAR
Perasaan pribadiku tak turut campur apa-apa dalam urusan ini. Aku alat Tuhan.
SAMUEL
Lagi-lagi begitu. Apa hubungannya semua ini dengan Tuhan ? O, ya, apa kebetulan kau pandai main catur ?
OSCAR
Kenapa anda bertanya begitu ( GELISAH, GUGUP )
SAMUEL
Sebab kau telah menengahi permainan catur saya itu. Antonio tadi mengancam saya untuk menskak mat dalam lima langkah. Tapi tidak, tidak semudah itu, Oscar Yakob.
OSCAR
Saya telah cukup mendengar anda melucu, Samuel Glaspel.
SAMUEL
Jadi kau tak bisa bermain catur ? baiklah, saya telah berjanji untuk meneruskan permainan itu nanti. Coba saja kita lihat nanti.
OSCAR
Tentu saja Yang Mulia berhak mempunyai suatu kehendak.
SAMUEL
Sudah saya katakan kepadamu, kalau kau telah bosan dengan wawancara ini, terserah padamu untuk mengakhirinya. Apalagi yang kau tunggu ? Kenapa kau jadi lamban ?
OSCAR
Apakah Yang Mulia tidak ingin berdoa ?
SAMUEL
Berdoa ? Siapa yang ingin mendengarkan doa dari orang macam saya ? Tidak ! saya lebih suka bicara.
OSCAR
Terserah kepada Yang Mulia.
SAMUEL
Ya, kita akan bicara sampai terkumpul keberanianmu untuk melaksanakan tugasmu itu.
OSCAR ( PEMBERONTAK YANG GAGAH )
Tak perlu keberanian untuk menyelesaikan orang macam Anda.
SAMUEL ( TENANG DAN YAKIN )
Orang akan membutuhkan keberanian biar untuk membunuh seekor tikus sekalipun.
OSCAR
Samuel Glaspel, saya adalah orang yang terpilih !
SAMUEL
Oo..begitu ? Jadi pilihan jatuh kepadamu. Suatu kehormatan. Suatu keistimewaan. Kau menganggapnya begitu, bukan ? Dan sebagai seorang pemeberontak kau punya cita-cita politik, bukan ?
OSCAR
Saya tak punya cita-cita politik.
SAMUEL
Tak punya cita-cita politik ? Oo.. begitu ! dan juga tak ada kebencian perseorangan. Lalu apa ? Coba ceritakan padaku.
OSCAR
Saya seorang petani, bapak saya seorang petani, dan kakek saya juga seorang petani. Anda seorang bangsawan, nenek anda seorang bangsawan dan pangeran. Ini adalah masalah penderitaan dan perbudakan melawan sejarah kekejaman dan penindasan. Saya tak akan peduli. Hari ini saya hanya memikirkan hari kemarin dan hari yang akan datang. Tindakan anda selalu sangat kejam dan keras, tak usah diragukan lagi, itu pun saya tak peduli. Saya tak akan menurut campurkan semua itu dalam hal ini. Bahkan penderitaan saya sendiripun tidak saya libatkan. Semuanya tak berarti telah mendorong saya untuk melakukan perbuatan ini. Anda dan saya tak cukup berarti apa-apa. Ini adalah kasta melawan kasta. Saya menggabungkan diri dalam partai revolusioner, betul ! Anda menamakan saya agen mereka, ya ! Meskipun saya tak tahu cita-cita mereka untuk negara ini. Saya tak mempedulikannya, saya hanya mengerti bahwa gerombolan pada siapa saya bergabung, adalah perjuangan yang mewakili gelora hati saya. Saya menuruti mereka karena saya merasa berhak untuk mendendam darah dan kelahiran saya.
SAMUEL
Yah..kau orang fanatik.
OSCAR
Adalah hukum alam bahwa saya melawan anda.
SAMUEL
Ahaa…jadi secara alam kau memusuhi saya ? sejarah penindasan melawan sejarah penindasan, begitu ? Hari ini kau telah melupakan segala-galanya, bukan ? Duka deritamu yang tak seberapa, dan kekejaman yang juga tak seberapa, kau anggap tak perlu diperdulikan ? kau hanya berpendapat, dirimu tak lebih dari tangan dendam satu kasta terhadap kasta lain. Oh..kau digerakkan debu-debu bangkai nenek moyang, bukan ? Kau memukul udara dengan gada asap. Kau terjerumus ke dalam kedangkalan dan kepicikan. Apa yang kau kerjakan kini adalah hinaaan yang fanatik terhadap keadilan.
OSCAR
Tanganku sudah gatal, Samuel Glaspel ! ( MENGANCAM )
SAMUEL
Tunggu ! ( TENANG )
Masih ada suatu hal yang ingin saya katakan, sesuatu yang akan kau kenang di antara waktu kau membunuh dan kau dibunuh. Sebenarnya Oscar Yakob adalah saya bukan Kau !
OSCAR
Omong kosong apa lagi ini ?
SAMUEL
Kaulah Samuel Glaspel.
OSCAR
Gila…Anda gila ! ( ANCAMAN PISTOL )
SAMUEL
Tunggu ! Ketika kau masih kanak-kanak, kau punya saudara pungut. Kau biasa berkejaran di ladang, kau biasa tiduran bersamanya, bertengkar memperebutkan boneka barang mainan. Ketika kau berumur tujuh tahun seseorang yang menunggang kuda datang dari bukit utara dan membawa saudara pungutmu itu pergi. Dan apabila kau menangis mencarinya, ayahmu memukulmu. Apakah kau masih ingat semua itu ?
OSCAR
Ya, saya masih mengingat semua itu dengan baik. ( DATAR )
SAMUEL
Ayahmu meninggalkan ibumu pada tahun berikutnya. Tak lama kemudian ibumu meninggal dunia. Ia tak pernah menceritakan perihal saudara pungutmu itu. Kau lalu pergi ke rumah pamanmu dan akhirnya kau di sana magang pada tukang sepatu.
OSCAR
Cukup ! Anda tak bisa mempesona saya dengan riwayat hidup saya sendiri. Itu tak membuktikan apa-apa. Spion-spion Anda mesti tahu apa saja perihal siapa saya dulu, siapa saya sekarang, bagaimana saya ini dan bagaimana saya itu.
SAMUEL
Ya.. memang cukup semua itu. Seperti kau katakan tadi, itu tak membuktikan apa-apa. Tapi toh kita berdua bersaudara angkat.
OSCAR
Apa buktinya ?
SAMUEL
Ibumu yang baik hati rupanya telah tertarik pada sebuah lelucon yang tak menguntungkan. Ia telah mengirimkan anaknya sendiri agar dibesarkan sebagai anak bangsawan, sedang seorang pangeran yang dititipkan kepadanya untuk melindunginya dari bahaya seorang Jendral Markais telah ia kirim ke Brudenburg, untuk menempuh hidup yang kau..kau sendiri tahu macam bagaimana itu.
OSCAR
Beri saya buktinya.
SAMUEL
Saya tidak akan memberikan ciri atau bukti kepadamu.
OSCAR
Aha..apa lagi sekarang ? Apa lagi yang akan Anda dongengkan kepada saya ?
SAMUEL
Sayalah anak petani itu dan kaulah bangsawan itu. Saya dan kau adalah anak petani itu. Mengertikah kau sekarang, mengapa saya katakan tugasmu itu adalah tugas yang kegila gilaan?
OSCAR
Bohong ! Bohong ! Apa pula tujuan Anda berbohong ?
SAMUEL
Tidak ada.
OSCAR
Apakah Anda mengharapkan saya membuang pistol ini keluar jendela dan memeluk Anda sebagai saudara tua ?
SAMUEL
Saya tak mengharapkan apa-apa. Saya insyaf, saya adalah orang mati yang berbicara dengan orang mati.
OSCAR
Bohong ! Bohong dari puncak sampai ke dasarnya !
SAMUEL
Benar 100%, tak ada alasan bagi saya untuk membohongimu. Kau sendiri yang tadi bertanya, bukan ? Kenapa kau diberikan kesempatan untuk membunuh saya. Apa yang kau rencanakan sudah terjadi beberapa minggu yang lalu. Samuel Glaspel telah kehilangan keseimbangannya. Saya sesungguhnya ingin bunuh diri. Saya harus mati. Tapi kematian macam apa, saya tidak mengetahuinya. Itulah sebabnya kau datang tidak digeledah. Kaulah yang menjalankan kematian itu.
OSCAR
Itu sajakah alasan anda untuk bertemu dengan saya ?
SAMUEL
Apakah tidak cukup kuat alasan untuk bertemu dengan memberi kematian itu ?
OSCAR
Haih..apalagi yang akan Anda ceritakan ?
SAMUEL
Saya hanya minta agar kau segera menyelesaikan tugasmu. Kecuali kau merasa berat untuk membunuh..saudara angkatmu…Oscar Yakob yang sebenarnya….Apabila demikian halnya, pintu masih terbuka bagimu.
OSCAR ( TAJAM )
Manis Sekali, Mengharukan Sekali. Kembali, dan mengatakan pada seluruh teman-temanku bahwa Oscar Yakob telah melepaskan Samuel Glaspel yang bengis itu dari ujung pistolku karena dia telah menceritakan sebuah cerita anak-anak tentang dua orang saudara angkat yang mengharukan ? Tidak ! ( MENGOKANG PISTOL )
SAMUEL
Bunuh saya kalau begitu !
OSCAR ( MEMBIDIK )
Saya….
SAMUEL
Tembaklah !
OSCAR
Saya tidak bisa. Bagaimanapunjuga ada kemungkinan yang Anda katakan itu benar.
( MELETAKKAN PISTOL ) Bagaimanapun, saya tak dapat hidup kalau itu dusta dan demi Tuhan, saya akan mati kalau itu benar.
SAMUEL
Pendeknya, bagaimanapun juga kita berdua harus mati.
OSCAR
Ya, demikianlah. Tapi aku tak berani bunuh diri. Harus ada jalan keluar, harus ada jalan lain.
SAMUEL
Apakah kau cukup berani untuk minum racun ? Ya, bagus..Lihatlah cincin ini. Kalau saya tekan sebuah pernya, begini, nah..ada tepung yang hebat di bawah akiknya. Lihat ! Kemudian kita undi, salah satu dari kita akan minum racun dan seorang lagi menggunakan pistol. Gampang bukan ?
OSCAR
Ya, sekarang jadinya saya mengetahui tipu muslihat Anda sebenarnya. Bohong ! Setiap kata anda adalah bohong ! Saya bisa menduga dengan jelas anda memang tukang sulap yang licik seperti setan. Tapi saya tak mau diundi dengan orang sejenis anda.
SAMUEL
Pakailah caramu kalau begitu. Lihatlah racun ini. Lebih dari cukup untuk kita berdua. Ambillah anggur sendiri dan bagi dua sendiri dalam dua gelas. Satu untukmu, dan satu lagi berikan pada saya. Dan untuk memuaskan hatimu, biarlah saya yang meminumnya terlebih dahulu.
OSCAR
Anda akan bersikeras sampai saat terakhir, bukan ? Baiklah, kita lihat saja nanti
( MENCAMPUR DAN SEBAGIAN UNTUK SAMUEL GLASPEL )
SAMUEL
Untuk kematian yang nikmat, Saudara Angkatku ( MINUM )
OSCAR
Aha…ternyata Anda memang seorang pemberani ( MENGANGKAT GELAS DAN BERHENTI )
Bagaimana..bagaimana kalau anda saya tinggalkan sekarang ? Bagaimana ?
SAMUEL
Para pengawalku telah saya perintahkan untuk menangkapmu begitu kau keluar.
OSCAR
Dalam hal ini, untuk penebusan dosa-dosa anda, Saudara Angkatku ( MINUM )
SAMUEL
Duduklah !
OSCAR ( DUDUK TAPI TEGANG )
Apakah kita harus menunggu lama ?
SAMUEL
Mungkin lima menit. Itu tadi ramuan tidur yang dinamakan sebagai pelupa diri yang sempurna. Saya percaya bahwa ia bekerja tanpa mendatangkan kesakitan. Saya telah diberi tahu, nanti kita akan menjadi mati perasaan dan indera kita. Apakah kau merasa ngantuk ?
OSCAR
Tidak. Saya tidak takut mati, Sobat ! ( MENATAP TAJAM )
SAMUEL
Angkatlah tanganmu.
OSCAR
Rasanya sangat berat. Apa anda takut mati, Yang Mulia ?
SAMUEL
Tidak. Saya tidak takut mati, Sobat ! ( MENATAP TAJAM )
OSCAR
Sa…saya juga tidak.
SAMUEL
Sekarang gerakan kakumu.
OSCAR
Tak bisa. Aneh…saya merasa….perasaan saya mati.
SAMUEL
Demikian juga saya, Sobat. Dapatkah kau bangkit dari kursimu ?
OSCAR
( PELAN ) Sa...ya...tidak bisa menggerakkan tangan saya. Barangkali saya bisa menggerakkan tangan saya. Barangkali saya bisa bergerak kalau saya berusaha keras … tetapi saya telah kehilangan kemauan saya …..sssa…ya … merasa sakit, hanya kepala berdenging denging.
SAMUEL
Be…gitukah ? Apakah kau masih mendengar suara saya dengan baik ?
OSCAR
Ya …saya masih medengar.
SAMUEL
Hmmm… he….ehe..he….( TERTAWA PANJANG DAN SINIS )
OSCAR
Katakan demi dosa-dosa Anda, apakah yang Anda ceritakan tadi benar ? Dan benarkah bahwa Samuel Glaspel itu saya sendiri ?
SAMUEL
Demi dosa saya he…he…he ?
OSCAR
Apabila semua itu benar, saya mohon anda bisa memaafkan saya.
SAMUEL
Tak ada yang harus dimaafkan.
OSCAR
( TERASA MENDEKATI AJALNYA ) Terima kasih
SAMUEL
Demi penebusan dosaku, Oskar Yakob, apa yang telah aku ceritakan tadi adalah dusta belaka
( BERTATAPAN ) Aku telah berdusta padamu. Aku bukanlah saudara angkatmu. Engkaulah Oscar Yakob dan aku adalah Samuel Glaspel. Aku telah berdusta padamu.
OSCAR ( BERUSAHA UNTUK BERDIRI MENGAMBILKAN PISTOL, TAPI KEBURU DIREBUT SAMUEL GLASPEL, AKHIRNYA LEMAS )
SAMUEL ( BERDIRI DI DEPANNYA )
Nah, sekarang kau masih bicara, bukan ?
OSCAR
Kau Iblis ! Kau pembohong ! Setidak tidaknya kau tak bisa lolos dariku. Aku tak perlu lagi menghantammu.
SAMUEL TERTAWA PANJANG
OSCAR
Baiklah ejeklah aku ! Aku toh tak dapat menghindarinya.
SAMUEL
Aku tak akan mati Oscar Yakob ( SINIS )
OSCAR
Teapi kau juga minum racun, bukan ? Aku melihatnya. Kau akan mampus Samuel Glaspel !
SAMUEL
Ya, kita berdua minum. Matamu tak pernah lepas dariku. Dan kau belum mau minum sebelum aku menghabiskan minumanku sampai tetes terakhir. Bukankah begitu ?
OSCAR
Aku melihat kau minum apa yang kau minum.
SAMUEL
Begitulah. Ini adalah tipu muslihat Timur. Kalau kau mau tahu, seseorang dalam keadaan terus menerus takut akan diracuni, lama kelamaan, sedikit demi sedikit akan tumbuh kekuatan di dalam dirinya untuk melawan racun yang bagi orang lain menimbulkan kematian. Demikian juga aku. Kebiasaan berhati-hati yang sangat fantastis, sudah menjadi kebiasaanku berhubung jabatanku ini. Setiap saat aku selalu berhati-hati dan bersiap-siap terhadap racun. Kebiasan yang bertahun-tahun itu mendatangkan kekuatan dalam tubuhku. Kau masih mendengar suaraku, bukan ? Inilah gunanya mengetahu pengetahuan Timur. Aku bisa menyombongkan diri padamu bahwa aku bisa menghabiskan dua-tiga gelas lagi tanpa mengalami gangguan apa-apa. Tetapi satu gelas saja sudah dapat membunuhmu ( OSCAR YAKOB BERUSAHA UNTUK MENERKAM TAPI JATUH BERPEGANGAN KURSI ) Tak ada faedahnya, Oscar Yakob. Aku menasehatkan padamu supaya berpegang erat-erat pada kursi itu.
OSCAR ( TERENGAH ENGAH SUARANYA MENINGGI TAPI TERSEDAT )
Kenapa…kenapa kau berbuat begitu padaku Samuel Glaspel ?
SAMUEL
Demi sorga. Saya punya hukum alam dan kau punya hukum alam, bukan ? Kau teroris, kau anarkis, kau juga jagal darah saudara lelakimu ; berjaga di jalanan kota dan mencabut nyawa kerabat dan sahabat-sahabatku…pembela kestabilan negara, pembela kekuatan pemerintah… apakah ini bukan apa-apa ? Apakah tidak ada lagi tuntutan fantastis ? Nah..Tuhan menyerahkan dirimu ke tanganku. Aku alat Tuhan dan bukan Kau, Oscar Yakob. Masihkah kau mendengar aku ?
OSCAR ( BERAT )
Yaa…
SAMUEL
Bagus…bagus satu hal lagi, kenapa aku mau mempertaruhkan nyawa untuk mengambil nyawamu. Kau ingin tahu bukan ? Kenapa aku membiarkan saja kau masuk dengan bebas ke kamar ini ? Kau ingin tahu juga kalau kau masih punya tenaga ? ( TERTAWA ) Sebab ialah karena orang telah mulai mengira bahwa Samuel Glaspel sudah tidak seperti biasanya. Dan aku pun sudah mulai sangsi dengan kecerdikanku sendiri. Maka dari itu, aku ingin menguji diriku sendiri, aku harus melemparkan diriku sendiri ke tengah pusara. Aku harus berhadapan dengan moncong pistolmu itu. Aku seterusnya harus menggencet hidupku dengan hidupmu dalam sebuah perjuangan mati-matian, di mana aku tak punya senjata dan tak mungkin mendapat pertolongan dari siapapun, kecuali ini
( MENUNJUK KE OTAKNYA )
OSCAR
Kau Iblis, bangsat. Kau keparat ( MENYERANG DAN JATUH KE LANTAI )
SAMUEL
Begitu…begitu…sudah tamat, bukan ? Baiklah..baiklah.
( MENGAMBIL ALAS UNTUK MENUTUPI TUBUH OSCAR YAKOB DAN MINUM, KEMUDIAN MEMBUNYIKAN BEL DAN MULAI MENEKUNI LAGI PAPAN CATUR ITU )
VERKA MASUK
VERKA
Apakah Yang Mulia memanggil saya ?
SAMUEL
Panggil Antonio ! Permainan catur akan segera dilanjutkan.
VERKA
Segera, Yang Mulia ( KELUAR )
SAMUEL
Begitu menterinya, kemudian pionnya, tidak. Ya…ya..aku tahu sekarang. Aku dapat akal. Demi sekian penghuni, tidak bisa jalan lagi.
ANTONIO ( MASUK DENGAN KAGUM )
Yang Mulia….Yang Mulia telah menghakimi sendiri orang ini sendiri ?
SAMUEL
Antonio…permainan caturnya kita lanjutkan. Kau lihat langkahku untuk menghindari skak matmu itu. Begini !
ANTONIO ( KAGUM )
S E L E S A I
Denpasar, Selesai Tengah Pagerwesi Tahun Caka 1925
Diposting oleh tomo
KUMPULAN NASKAH :bY ADITYO
PAGI BENING
Drama Komedi Satu Babak
Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero
Terjemahan Drs. Sapardi Joko Damono
© 2006
P a g i B e n i n g
( Drama Komedi Satu Babak dari tanah Spanyol )
Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero
Terjemahan Drs. Sapardi Joko Damono
T e m p a t K e j a d i a n
Madrid – Spanyol
Di suatu tempat – Taman terbuka
Di jaman ini juga
P e m a i n
Donna Laura
Wanita tua, berumur kira-kira 70 tahun
Masih nampak jelas bahwa dulunya cantik dan tindak tanduknya menunjukkan bahwa mentalnya juga baik.
Don Gonzalo
Lelaki tua, berumur kira-kira 70 tahun lebih
Agak congkak dan selalu tampak tidak sabaran
Petra
Gadis pembantu Laura
Juanito
Pemuda pembantu Gonzalo
( DONNA LAURA MASUK, BERPEGANGAN TANGAN PADA PETRA. TANGANNYA YAN LAIN MEMBAWA PAYUNG YANG JUGA UNTUK TONGKATNYA )
LAURA : Aku selalu merasa gembira sekali di sini. Syukur bangkuku tidak ditempati orang lain. Duhai, pagi yang cerah! Cerah sekali.
PETRA : Tapi matahari agak panas, Senora.
LAURA : Ya, kau masih duapuluh tahun (IA DUDUK DI BANGKU BELAKANG). Aku merasa lebih letih dari biasanya (MELIHAT PETRA YANG NAMPAK TAK SABAR), pergilah kalau kau ingin ngobrol dengan tukang kebunmu itu!
PETRA : Dia bukan tukang kebunku, Senora, dia tukang kebun taman ini!
LAURA : Ia lebih tepat disebut milikmu daripada milik taman ini. Cari saja dia. Tapi jangan sampai terlalu jauh hingga tak kau dengar panggilanku.
PETRA : Saya sudah melihatnya di sana, menanti.
LAURA : Pergilah, tapi jangan lebih dari sepuluh menit!
PETRA : Baik, Senora (BERJALAN KE KANAN)
LAURA : Hei, nanti dulu!
PETRA : Ada apa lagi, Senora?
LAURA : Berikan remah-remah roti itu!
PETRA : Ah, pelupa benar aku ini!
LAURA : (SENYUM) Aku tahu! Pikiranmu sudah lekat ke sana, heh, si tukang kebun itu!
PETRA : Ini, Senora (MENGELUARKAN BUNGKUSAN ROTI. KELUAR KE KANAN)
LAURA : Adios! (MEMANDANG KE ARAH PEPOHONAN). Ha, mereka datang. Mereka tahu kapan mesti datang menemui aku (BANGKIT DAN MENYERAHKAN REMAH-REMAH ROTI). Ini buat yang putih, ini untuk yang coklat, dan ini untuk yang paling kecil tapi kenes. (TERTAWA DAN DUDUK LAGI MEMANDANG MERPATI YANG SEDANG MAKAN). Ah, merpati-merpati yang manis. Itu yang besar mesti lebih dulu, kentara dari kepalanya yang besar, dan itu ... aduh , kenes benar. Hai, yang satu itu selesai mematuk terus terbang ke dahan. Bersunyi diri. Agaknya ia suka berfilsafat. Tapi dari mana saja mereka ini datang? Seperti kabar angin saja! Meluas dengan mudah. Ha, ha, jangan bertengkar. Masih banyak. Besok kubawakan yang lebih banyak lagi!
(DON GONZALO DAN JUANITO MASUK DARI KIRI. GONZALO BERGANTUNG SEDIKIT PADA JUANITO. KAKINYA BENGKAK, AGAK DI SERET)
GONZALO : Membuang-buang waktu melulu! Mereka itu suka benar bicara yang bukan-bukan.
JUANITO : Duduk di sini sajalah, senior. Hanya ada seorang wanita.
(DONA LAURA MENENGOK DAN MENDENGARKAN)
GONZALO : Tidak, Juanito. Aku mau tersendiri.
JUANITO : Tapi tak ada .
GONZALO : Yang di sana itu kan milikku!
JUANITO : Tiga orang pendeta duduk di sana, Senior!
GONZALO : Singkirkan saja mereka! ... ... ... Sudah pergi!
JUANITO : Tentu saja belum! Mereka tengah bercakap-cakap.
GONZALO : Seperti merekat pada bangku saja mereka itu! Heh, tak ada harapan lagi, Juanito. Mari!
JUANITO : (MENGGANDENG KE ARAH MERPATI-MERPATI)
LAURA : (MARAH). Awas hati-hati!
GONZALO : Apa Senora berbicara dengan saya?
LAURA : Ya, dengan tuan!
GONZALO : Ada apa?
LAURA : Tuan menakut-nakuti burung-burung merpati saya!
GONZALO : Peduli apa burung-burung itu!
LAURA : Apa, ha?
GONZALO : Ini taman umum, Senora!
LAURA : Tapi kenapa tadi tuan mengutuki pendeta-pendeta di sana itu?
GONZALO : Senora, tapi kita belum pernah jumpa! Dan kenapa tadi Senora menegur saya? Ayo, juanito! (MELANGKAH KE KANAN)
LAURA : Buruk amat perangai si tuan itu! Kenapa orang mesti jadi tolol dan pandir kalau sudah meningkat tua? (MELIHAT KE KANAN). Syukur. Ia tidak mendapat bangku! Itu, orang yang menakut-nakuti merpati-merpatiku. Ha, ia marah-marah. Ya, ayo, carilah bangku kalau kau dapat! Aduh, kasihan, ia menyeka keringat di dahi. Nah, itu dia kemari lagi. Debu-debu mengepul seperti kereta lewat! (JUANITO DAN GONZALO MASUK)
GONZALO : Apa sudah pergi pendeta-pendeta yang ngobrol itu, Juan?
JUANITO : Tentu saja belum, Senior?
GONZALO : Walikota seharusnya lebih banyak menaruh bangku-bangku di sini! Terpaksa juga aku kini duduk bersama wanita tua itu!
(IA DUDUK DI UJUNG BANGKU,MEMANDANG DENGAN IRI KEPADA LAURA, DAN MEMBERI HORMAT DENGAN MENGANGKAT TOPI). Selamat pagi.
LAURA : Jadi tuan di sini lagi?
GONZALO : Ku ulang lagi, kita kan belum pernah jumpa!
LAURA : Saya toh cuma membalas salam tuan!
GONZALO : “Selamat Pagi”, mestinya cukup dibalas dengan “selamat pagi” saja.
LAURA : Tapi tuan seharusnya juga minta ijin untuk duduk di bangku saya ini.
GONZALO : Ahai, bangku ini kan milik umum!
LAURA : Kenapa bangku yang di san itu juga tuan katakan milik tuan, hah?
GONZALO : Baik, baik! Sekian sajalah!
( PADA DIRINYA SENDIRI ) Dasar perempuan tua! Patutnya dia di rumah saja, merenda atau menghitung tasbih.
LAURA : Jangan mengoceh lagi. Aku juga tokh, tak akan pergi untuk sekedar menyenangkan hatimu!
GONZALO : (MENGELAP SEPATUNYA DENGAN SAPU TANGAN). Kalau disiram air sedikit tentu lebih baik. Tak berdebu lagi jadinya taman ini.
LAURA : Apa tuan biasa menggunakan saputangan sebagai lap?
GONZALO : Kenapa tidak?!
LAURA : Apa tuan juga menggunakan lap sebagai sapu tangan?
GONZALO : Hah? Nyonya kan tak punya hak untuk mengeritik saya!
LAURA : Toh sekarang saya ini tetangga tuan!
GONZALO : Juanito! Buku! Bosan mendengarkan nonsense macam itu!
LAURA : Alangkah sopan santun tuan ini!
GONZALO : Maaf saja nyonya. Tapi saya mengharap nyonya tidak bernapsu campur tangan urusan orang lain!
LAURA : Saya memang biasa melahirkan pikiran-pikiran saya.
GONZALO : Hhh, Juanito! Buku!
JUANITO : Ini, tuan! (MENGAMBIL BUKU DARI KANTONG, DON GONZALO MEMANDANG DENGKI PADA LAURA; GONZALO MENGELUARKAN KACA PEMBESAR DAN KACAMATA: MEMBUKA BUKU)
LAURA : Oh, saya kira tuan mengeluarkan teleskop.
GONZALO : Nyonya bicara lagi!
LAURA : Tentunya penglihatan tuan masih baik sekali!!
GONZALO : Jauh lebih baik dari penglihatan nyonya!
LAURA : Ahai, tentu saja!
GONZALO : Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada kelinci-kelinci dan burung-burung.
LAURA : Artinya tuan suka berburu kelinci dan burung?
GONZALO : Saya pemburu memang. Dan sekarang pun saya tengah berburu.
LAURA : Ya, tentunya! Begitulah!
GONZALO : Ya, Senora. Tiap Minggu saya menyandang bedil bersama anjing saya pergi ke Arazaca. Iseng-iseng berburu! Membunuh waktu!
LAURA : Ya, membunuh waktu! Apa hanya waktu saja bisa tuan bunuh?
GONZALO : Nyonya kira begitu? Saya bisa menunjukkan kepala beruang besar dikamar saya!
LAURA : Dan saya juga bisa menunjukkan kepala singa di kamar tamu saya, meskipun saya bukan pemburu!
GONZALO : Sudahlah nyonya, sudah! Saya mau membaca. Percakapan cukup! Ngomong putus!
LAURA : Ha, tuan menyerah!
GONZALO : Tapi saya mau ambil obat bersin dulu. (MENGAMBIL TEMPAT OBAT). Nyonya mau? (MEMBERIKAN OBAT ITU)
LAURA : Kalau cocok!
GONZALO : Ini nomor satu! Nyonya tentu akan suka!
LAURA : Memang biasanya akan menghilangkan pusing.
GONZALO : Saya pun begitu.
LAURA : Tuan suka bersin?
GONZALO : Ya tiga kali.
LAURA : Persis sama dengan saya! (SETELAH MENGAMBIL BUBUKAN, KEDUANYA BERSIN BERGANTI-GANTI MASING-MASING TIGA KALI).
GONZALO : Ehaaaah, agak enakan sekarang.
LAURA : Saya pun merasa enak sekarang.
(KE SAMPING) Obat itu telah mendamaikan kami rupanya!
GONZALO : Maaf, saya mau membaca keras. Tidak mengganggu kan?
LAURA : Silahkan sekeras mungkin, tuan tidak menggangu saya lagi.
GONZALO : (MEMBACA) “ Segala cinta itu menyakitkan hati
Tetapi bagaimana jugapun pedihnya
Cinta adalah sesuatu yang terbaik
Yang pernah kita miliki “
Nah, bait itu dari penyair Campoamor.
LAURA : Ah!
GONZALO : (MEMBACA) “ Anak-anak dari para bunda
Yang pernah kucinta
Menciumku sekarang
Seperti bayangan hampa “
Baris-baris ini agak lucu juga rasanya.
LAURA : (TERTAWA) Kukira juga begitu.
GONZALO : Ada beberapa sajak bagus dalam buku ini. Dengar!
(MEMBACA) “ Duapuluh tahun berlalu
Ia pun kembalilah “
LAURA : Cara tuan membaca dengan kaca pembesar itu sungguh agak menggelikan saya.
GONZALO : Jadi nyonya bisa membaca tanpa kaca pembesar?
LAURA : Tentu saja, tuan.
GONZALO : Setua itu? Ahai, nyonya main-main saja!
LAURA : Coba saya pinjam buku tuan itu!
(MENGAMBIL BUKU DAN MEMBACANYA KERAS-KERAS)
“ Duapuluh tahun berlalu
Dan ia pun kembalilah
Masing-masing saling memandang,
Berkata :
Mungkinkah dia orangnya?
Ya Allah, dimana oranya itu? “
GONZALO : Hebat! Saya iri hati pada penglihatan nyonya.
LAURA : (KESAMPING) Hmm, saya hafal tiap kata syair itu.
GONZALO : Saya gemar sekali puisi-puisi yang bagus. Sungguh gemar sekali. Bahkan ketika masih muda, kadang-kadang suka bersyair.
LAURA : Sajak-sajak bagus juga?
GONZALO : Ya, macam-macamlah. Saya dulu sahabat dari Exprosoda, Zorilla, Bocquer, dan penyair-penyair lain. Saya kenal Zorilla pertama kali di Amerika.
LAURA : Eh, tuan pernah ke Amerika?
GONZALO : Sering juga. Pertama kesana saya waktu umur 6 tahun.
LAURA : Tentunya dulu tuan ikut Colombus.
GONZALO : (TERTAWA) Yah, tidak sejelek itu nasibku! Saya sudah tua, tapi belum pernah kenal Raja Ferdinand serta Ratu Isabella!
(KEDUANYA TERTAWA). Saya juga teman Campoamor, berjumpa pertama kali di Valensia. Saya warga kota di sana.
LAURA : Apa sungguh?
GONZALO : Saya dibesarkan disana. Dan masa mudaku habis di kota itu. Apa nyonya pernah ke Valensia?
LAURA : Pernah! Tiada jauh dari Valensia ada sebuah villa dan kalau masih berdiri sekarang, bisa mengembalikan kenangan-kenangan yang manis. Saya pernah tinggal beberapa musim di sana. Tapi sudah lama lampau. Villa itu dekat laut, tersembunyi antara pohon jeruk. Mereka menyebutnya ... ah ... lupa ... o ya, Villa Maricella.
GONZALO : Maricella?
LAURA : Maricella. Apa tuan pernah mendengarnya?
GONZALO : Tak asing lagi nama itu ... ah, kita tambah tua tambah pelupa ... di Villa itu dulu ada seorang wanita paling cantik yang pernah saya lihat dan saya kenal. Dan namanya ... O ya, Laura Liorento!
LAURA : (KAGET) Laura Liorento?
GONZALO : Benar (MEREKA SALING TATAP)
LAURA : (SADAR LAGI) Ah, tak apa-apa, hanya mengingatkan saya pada teman karib saya.
GONZALO : Aneh juga.
LAURA : Memang aneh! Dia diberi sebutan “ Perawan Bagai Perak”.
GONZALO : Tepat, “Perawan Bagai Perak”. Nama itulah yang terkenal di sana. Sekarang saya seperti melihatnya kembali di jendela di antara kembang mawar merah itu. Nyonya ingat jendela itu?
LAURA : Ya, saya ingat itulah jendela kamarnya.
GONZALO : Dulu dia suka berjam-jam di jendela.
LAURA : (MELAMUN) Ya, memang dulu dia suka begitu.
GONZALO : Dia gadis ideal. Manis bagai kembang lilia. Rambutnya hitam. Sungguh mengesankan sekali! Mengesankan sampai kapan saja. Tubuhnya ramping sempurna. Betapa Tuhan telah menciptakan keindahan seperti itu. Dia seperti impian saja.
LAURA : (KE SAMPING) Jika seandainya tuan tahu bahwa impian itu ada di samping tuan, tuan akan sadar impian macam apa itu, heh?
(KERAS-KERAS) Dia adalah gadis yang malang yang gagal cinta.
GONZALO : Betapa sedihnya (MEREKA SALING MEMANDANG)
LAURA : Tuan pernah mendengar kabarnya?
GONZALO : Ya, pernah.
LAURA : Nasib malang meminta yang lain.
(KESAMPING) Gonzalo!
GONZALO : Si jago cinta cakap itu! Peristiwa cinta yang sama.
LAURA : Ah, duel itu.
GONZALO : Tepat, duel itu. Si Jago Cinta itu adalah ... saudara sepupu saya. Saya juga sayang sekali kepadanya.
LAURA : Oh ya, saudara sepupu. Seorang temanku menyurati saya dan bercerita tentang mereka. Dia ... saudara sepupu tuan itu ... tiap pagi lewat di depan jendelanya dengan naik kuda, dan melemparkan ke atas seberkas kembang yang segera disambut gadisnya.
GONZALO : Dan tak lama kemudian, dia ... saudara sepupu saya itu ... lewat lagi untuk menerima kembang dari atas. Begitu?
LAURA : Benar. Dan keluarga gadis itu ingin agar ia kawin dengan saudagar yang tidak ia cintai.
GONZALO : Dan pada suatu malam, ketika saudara sepupuku tadi tengah menanti gadisnya menyanyi ... di bawah jendela, lelaki itu muncul dengan tiba-tiba.
LAURA : Dan menghina saudara tuan itu.
GONZALO : Kemudian pertengkaran terjadi.
LAURA : Dan kemudian ... duel!
GONZALO : Ya, waktu matahari terbit, di tepi pantai, dan si Saudagar itu luka-luka parah. Saudara sepupu saya itu harus bersembunyi dan kemudian melarikan diri.
LAURA : Tuan rupanya mengetahui benar ceritanya.
GONZALO : Nyonya pun begitu agaknya.
LAURA : Saya katakan tadi, seorang teman telah menyurati saya.
GONZALO : Saya pun diceritai oleh saudara sepupu saya.
(KE SAMPING) Heh, inilah Laura itu! Tak salah!
LAURA : (KE SAMPING) Kenapa menceritakan padanya? Dia tak curiga apa-apa.
GONZALO : (KE SAMPING) Dia sama sekali tak bersalah.
LAURA : Dan apakah tuan pula yang menasihati saudara tuan itu untuk melupakan Laura?
GONZALO : Ooo, saudara sepupu saya tak pernah melupakannya.
LAURA : Bagaimana begitu?
GONZALO : Akan saya ceritakan segalanya kepada nyonya.
Anak muda – Don Gonzalo itu – bersembunyi di rumah saya, takut menanggung akibatnya yang buruk sehabis menang duel itu. Dari rumah saya ia terus lari ke Madrid. Ia kirim surat-surat kepada Laura, di antaranya sajak-sajak. Tapi tentunya surat-surat itu jatuh ke tangan orang tuanya. Buktinya tak ada balasan. Kemudian Gonzalo pergi ke Afrika, sebab cintanya telah gagal sama sekali, masuk tentara dan terbunuh di sebuah selokan sambil menyebut berulangkali nama Lauranya yang sangat tercinta.
LAURA : (KE SAMPING) Dusta! Heh, dusta kotor belaka!
GONZALO : (KE SAMPING) Saya tak bisa membunuh diriku lebih ngeri lagi.
LAURA : Tuan tentunya telah ditumbangkan kesedihan yang sangat
GONZALO : Memang betul, nyonya. Dia seperti saudaraku sendiri. Dan saya kira tak lama kemudian, Laura telah melupakannya. Kembali bermain memburu kupu-kupu seperti biasanya. Tak pernah meratapinya.
LAURA : Tidak, Senior. Sama sekali tidak!
GONZALO : Biasanya perempuan memang begitu!
LAURA : Kalaupun itu sudah sifat perempuan, “Perawan Bagai Perak” adalah terkecuali! Teman saya itu menanti berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dan tak selembar suratpun tiba. Suatu senja ketika matahari terbenam, dia meninggalkan rumahnya dan dengan langkah tergesa menuju pantai tempat kekasihnya menjaga nama baiknya. Ia menuliskan namanya di pasir, lalu duduk di atas karang, memandang ke kaki langit. Ombak menyanyikan tembang duka yang kekal, dan menggapai batu karang di mana perawan itu duduk. Air pasang segera tiba dan menyapu gadis itu dari muka bumi.
GONZALO : Ya Allah!
LAURA : Para nelayan di situ sering menceritakan bahwa nama yang ditulis gadis itu lenyap ditelan air pasang.
(KE SAMPING) Toh kamu tak tahu aku reka-reka sendiri cerita kematianku!
GONZALO : ( KE SAMPING ) Dia berdusta lebih ngeri dari dustaku!
LAURA : Ah, Laura yang malang!
GONZALO : Wahai Gonzalo yang malang!
LAURA : (KE SAMPING) Aku takkan bercerita kepadanya bahwa aku kawin dua tahun kemudian setelah duel itu!
GONZALO : (KE SAMPING) Aku takkan bercerita kepadanya bahwa dua bulan kemudian aku mengawini penari ballet dari Paris!
LAURA : Nasib memang selalu aneh. Di sini, tuan dan saya, dua orang asing, bertemu secara kebetulan dan saling menceritakan kisah cinta yang sama dari dua teman lama yang telah bertahun lalu terjadi, seperti sudah akrab benar kita ini!
GONZALO : Ya, memang aneh. Padahal mula-mula kita bertemu tadi, kita bertengkar.
LAURA : Tuan juga yang tadi mengganggu merpati-merpati saya.
GONZALO : Memang agak kasar saya tadi.
LAURA : Memang kasar. (RAMAH) Tuan datang lagi besok pagi?
GONZALO : Tentu, asal pagi secerah ini. Dan takkan lagi mengganggu merpati-merpati itu, tapi saya akan membawa remah-remah roti besok.
LAURA : Oh, terima kasih. Burung-burung selalu tahu berterimakasih. Hei! Mana pembantuku tadi? – Petra!
GONZALO : (MELIHAT LAURA YANG MEMBELAKANG) Tidak! Tak akan kukatakan siapa aku ini sebenarnya. Aku sudah tua dan lemah. Biarlah dia mengangankan aku sebagai penunggang kuda tampan yang lewat di bawah jendelanya.
LAURA : Nah, itu dia.
GONZALO : Itu Juanito! Dia sedang bercanda dengan gadisnya! (MENGISYARATI)
LAURA : (MEMANDANG GONZALO YANG MEMBELAKANG) Tidak, aku sudah berubah tua. Lebih baik ia mengingatku sebagai gadis bermata hitam yang melempar bunga dari jendela.
(JUANITO DAN PETRA MASUK) Hei, Petra!
GONZALO : Juanito, kau sedikit lambat.
PETRA : (KEPADA LAURA) Si tukang kebun memberikan bunga-bunga ini kepada Seniora.
LAURA : Alangkah bagusnya. Terima kasih. Sedap benar baunya! (BEBERAPA BUNGA GUGUR KE TANAH)
GONZALO : Ini semua sungguh menyenangkan, Senora!
LAURA : Demikian juga saya, Senior!
GONZALO : Sampai besok, nyonya!
LAURA : Sampai besok, tuan!
GONZALO : Agak panas hari ini!
LAURA : Pagi yang cerah. Tuan besok pergi ke bangku tuan?
GONZALO : Tidak, saya akan kemari saja. Itu kalau nyonya tidak berkeberatan.
LAURA : Bangku ini selalu menanti tuan!
GONZALO : Akan saya bawa remah-remah roti!
LAURA : Besok pagi, jadilah!
GONZALO : Besok pagi. (LAURA MELANGKAH KE KANAN BERPEGANG PADA PETRA. GONZALO MEMBUNGKUK SUSAH PAYAH MEMUNGUT BUNGA YANG JATUH TADI, DAN LAURA MENENGOK KETIKA ITU)
LAURA : Apa yang tuan kerjakan?
GONZALO : Juanito, tunggu dong!
LAURA : Tak salah, dialah Gonzalo!
GONZALO : (KE SAMPING) Tak salah, dialah Laura!
(MEREKA MASING-MASING MELAMBAIKAN TANGAN)
LAURA : Mungkinkah dia itu benar orangnya?
GONZALO : Ya Allah, diakah orangnya itu?
(KEDUANYA TERSENYUM)
L a y a r T u r u n
The Light
Of
Ken Dedes
Naskah Drama oleh
M Ahmad Jalidu
© 2006
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang mementaskan naskah ini tanpa ijin dari penulis.
M. Ahmad Jalidu
GMT on Stage Production
08175486266
masjali@yahoo.com / zonagamblank@yahoo.com
THE LIGHT OF KEN DEDES
Opening
Café
Band mengalunkan lagu lembut. Seorang wanita duduk sendiri di salah satu meja.
Lagu :
If I were you and you were me
And all the thing in life become so blue
And when the night is bright and days turns dark
So world will be so blue
The time is lost, and space is worse
The God may be seems blue
And my heart so blue
And your face is blue
Let me cry
Couse those tears also blue
Lampu temaram…
Wanita di Café : Kenapa harus aku. Aku tak tahu bahwa sinar di kelaminku ini ada artinya. Kupikir semua orang juga begitu. Kupikir karena semua orang begitu maka tak perlu dibicarakan lagi.
Aku masih ingat ketika kakekku mendongen baratayuda. Aswatama yang ingin membalas dendam kedamaian ayahnya resi Durna terpaksa menggali terowongan dalam tanah menuju ke keraton Amarta. Dia ditemani ibunya yang membuka kain hingga kelaminnya terbuka dan memancarkan sinar untuk menerangi dendam suci sang putra.
Kupikir itu tidak aneh.
Aku bahkan rajin membersihkan kelaminku ini, dan tak lupa mengelusnya setiap menjelang tidur dan pagi sebelum mandi. Waktu itu aku berjanji tak akan berhenti begitu setiap hari sebelum kelaminku bersinar seperti petromak. Setiap tengah malam kumatikan lampu kamar dan aku telanjang untuk menguji apakah vagina cantikku sudah mampu menerangi ruangan seperti milik istri Durna? Dan selalu saja belum.
Di sudut lain sebuah adegan menggambarkan berita televise tentang Beberapa orang arkeolog yang melakukan penggalian dan menemukan situs kuno.
Reporter 1 : Baik pemirsa. Kami sekarang berada di sebuah situs peninggalan jaman manusia Homo Aroktus yang terkenal dengan genarasi Ken Arok. Di sini ditemukan reruntuhan candi pada kedalaman tanah sekitar 8 meter di bawah permukaan tanah. Yang unik adalah di tempat ini juga ditemukan sebuah pistol jenis revolver yang untuk sementara dinyatakan mirip dengan pistol yang dipakai Lucky Luke.
Wanita di café mendekai area reporter.
Wanita di Cafe : apa tadi? Aku belum dengar.
Reporter 1 : pemirsa kami ulangi. Kami sekarang berada di sebuah situs peninggalan jaman manusia Homo Aroktus yang terkenal dengan genarasi Ken Arok. Di sini ditemukan reruntuhan candi pada kedalaman tanah sekitar 8 meter di bawah permukaan tanah. Yang unik adalah di tempat ini juga ditemukan sebuah pistol revolver yang untuk sementara dinyatakan mirip dengan pistol yang dipake Lucky Luke.
Wanita di Cafe : (terkejut)
Ken…
LAMPU BERUBAH
DUA
Musik menanjak sekelompok gadis desa masuk dengan tarian enerjiknya. Suasana menggambarkan keceriaan gadis-gadis desa mandi dan mencuci di tepi sungai di pagi hari.
Lagu : pagi yang indah di tumapel
angin sejuk putri ceria
bersenda ria menyambut hari
memanggil rindu yang tak sepi
gemericik seorang putri
angan yang merdu bagi cinta
Sungai yang ramah oh, beningmu
berikanlah merdu kisahmu
Sebuah Sungai di desa Wonopati, kabupaten Tumapel. Perempuan-perempuan mandi dan mencuci pakaian. Pagi buta itu adalah kegiatan mereka ngerumpi.
Seiring lampu Fade in, terdengar tawa renyah mereka.
Ken Memey : (menepuk pantat) Nih… panjat Jelo!
Ken Siti : Alah. Ken memey ini, segitu aja bangga. Nih… Mungil, lincah dan seksi (menggerai rambut, lalu berpose) Paris Hilten, sang penggoda.
Ken Taki : (datang) Spada… enibadi Hom…?
Ken Siti segera mencipratkan air ke arah Ken Taki yang baru datang.
Ken Taki : Ini apa-apaan ini, ada yang jelo ada yang Paris Hilten. Wong saya yang mirip Karmen Elektra aja nggak somby kok.
Ken Memey : Heh,,, body kaya gitu Karmen Elektra? Bolam Elektra tahu nggak sih?
Semua tertawa…
Ken Royah : Eh. Mbak Ken Memey, gimana jadi nggak nikah sama pak Lurah.. udah 2 tahun janda lho kok tenang—tenang saja.
Ken Memey : Hus! Sapa yang tenang Roy, tiap malem aku tuh menggelinjang sendiri. Nggak ada yang mau nangkep…
Ken Taki : Alah.. pas kapan itu saya liat Pak Lurah baru mengendap-endap kaya mengetuk jendela Mbak Ken Memey. Kaya Agen CIA aja, nggak tahunya agen tabloid porno.
Ken Memey : Heyy..heyy.. heyy.. are you speaking? Please deh.. yang agen-agenan gitu jangan di sebut. Itu karena pak Lurah perhatian sama rakyat. Jangan sampe aku yang janda semok ini digosipkan yang enggak-enggak. Aksi intip pak Lurah itu, Cuma buat mastiin, kalo Ik baik-baik aja dan terselimuti dengan hangat. just that. Itu aja… jangan dibesar-besarin dong.
Ken Taki : Emang punya pak Lurah udah besar, nggak boleh dibesarin lagi…
Semua tertawa ngikik…
Ken Siti : sebenarnya gimana sih hubungan mbak Ken Memey sama Pak Lurah baru?
Ken Memey : Hubungan kami? Ouugghh.. ya jelas hot berguling-guling. Dia kwalahan terus terima seranganku.. (terdiam) maksudmu hubungan…
Ken Siti : maksud saya, serius pacaran apa cuma TTM aja?
Ken Memey : Duuhh.. gimana ya? Dia tuh oke, tapi…
Eh.. udah pada lihat si sales kuda itu belum?
Ken Royah : Sales Kuda?
Ken Memey : Sales Kuda. Itu tuh yang sekarang nginep di rumah Pak Lohgawe. Dia itu penjual Kuda. Sekarang dia jadi menejer pemasaran kuda di daerah Tumapel. Ngekos di rumah pak Lohgawe.
Ken Taki : Oo.. si rambut pirang itu
Ken Memey : Iya.. wuiihh cuakep banget. Perut nya six pack lho. Rambutnya pirang, bule Amrik, keren Boo…
Ken Dedes Muda datang…
Ken Siti : Nah.. ini nih yang cocok ama Kang sales Kuda. Siapa namanya ?
Ken Taki : Ken Arok.
Ken Royah : Dedes-Arok, cocok ya..
Ken Taki : Wow… se level ama Rama-Sinta tapi ada yang lebih cocok lagi
Ken memey : siapa?
Ken taki : Taki-Arok
Semua sigap menimpuki taki dengan baju-baju basah…
Ken Memey : siapa tadi yang bilang Dedes cocok ma Arok? Alasannya apa?
Ken Siti : Lho. Ya jelas yang cowok ganteng, yang cewek cantik.
Ken Memey : denger ya! Belum ada undang-undang yang menyatakan cowok paling ganteng harus jodoh sama cewek paling cantik. And…Belum ada survey yang valid soal siapa yang paling cantik di Tumapel. You jangan menghembuskan gossip sembarang gossip okeyyy…?!!
Ken memey memandang Ken Dedes dengan sinis, Ken Dedes Cuma senyum dan melanjutkan kegiatan.
LAMPU BERUBAH
TIGA
Ken Arok diiringi penari berkuda. Mereka memasuki desa Wonopati dan hendak menemui Empu Purwa.
Menyanyi : Man, paman kemarilah man
Jangan bengong dan terkesima
Jikalau kau ingin pergi
Sungguh lelah kaki melangkah
Kau butuh bantuan man
Kaki kaki kendaraan
Dari texas aku datang
Tawarkan kuda-kuda tunggangan
Inilah man, harga murah tapi meriah
Jangan sampai man, jangan sampai kau salah
Ini kuda man, ini kuda sungguhlah gagah
Kuda jingkrak man, bikin jalanmu mudah
Penunggang Kuda memarkir kudanya, lalu bergerombol berubah menjadi kumpulan gadis-gadis yang mengagumi kegantengan Ken Arok.
Gadis-gadis tertawa cekikikan. Ken Arok jadi salah tingkah. Lalu Ken Dedes dan Ken Taki pulang dari sungai.
Ken dedes : maaf, cari siapa?
Ken Arok : Kamu,.. ehh.. kamu. Eeee.. cari.. kuda.. ya kuda.. eh saya punya kuda.. pria.. pria.. bapak.. ee siapa saja orang pria yang ada di rumah.. saya mau jualan kuda.
Ken Taki : oo,,.. situ sales kuda to? Kok ga pake dasi. Sales-sales barang elektronik pada make dasi lho mas. Yang nggak pake dasi biasanya mendreng. Jualan alat-alat rumah tangga dengan bayaran dicicil.
Ken Dedes : Taki!. Sebentar mas, saya panggilkan.
Ken Dedes masuk rumah.
Ken Taki : (pada gadis-gadis) stop! The End. Pertunjukan bule ini selesai. Dia ke sini bertamu. Otomatis harus masuk ruang tamu. End you-you semua harus off dari sini. Atau you baris jadi satu sama kuda?
Ken Taki masuk rumah. Gadis-gadis pergi. Mpu Purwa keluar
Mpu Purwa : OO.. mas …
Ken Arok : Arok. Ken Arok.
Mpu Purwa : Mangga-mangga ken Samrock.
Ken Arok : What? Arok. Bukan Samrock. Samrock itu preman suka gulat.
Mpu Purwa : Oo ya.. mari silakan duduk. Pak Lurah sudah cerita tentang kedatangan Anda.
Musik mengalun kembali
Ken Dedes keluar dengan minuman
Mpu Purwa : di Texas sekarang musim apa Mas?.
Ken Arok : Di tempat saya punya asal, sekarang sedang musim tembak-tembakan. Cowok menembak cewek. Dan sekarang cewek mulai berani menembak cowok. Di sini pak?
Mpu Purwa : Di sini musim tenda. Di mana-mana banyak tenda mas. O ya. Kenalkan ini ken Dedes, putri saya semata wayang.
Ken Arok : what?! Matanya kaya wayang?
Mpu Purwa : bukan matanya kaya wayang. Semata wayang. Ontang-anting.
Ken Arok : o.. I see- I see. Ontang anting. Boleh, boleh.
Ken Taki : (menyusul dengan piring snack) boleh apanya mister koboi?
Ken Arok : maksud saya, boleh saja beranak satu, dua juga boleh, tiga juga boleh. Sepuluh juga boleh.
Mpu Purwa : Dedes… tolong ditemani sebentar. Romo mau ke lurah sebentar. Ngobrol sama anak saya dulu mas Ken Arok.
Ken Arok. : Siap Romo.
Mereka duduk ngobrol dari mulai canggung sampai sangat akrab. Bersamaan dengan itu musik mengalun. Penari bersliweran.
LAMPU BERUBAH
EMPAT
Di rumah Ken Memey, rupany semalam Pak Lurah menginap di rumah Ken Memey. Pagi ini Pak Lurah bersiap berangkat bekerja.
Lurah Baru : Tapi… kanapa sih. Kamu jadi sibuk ngurusin mereka. Biar saja. Ken Arok itu cuma penjual kuda. Dan kamu juga sudah janji sehidup-semati sama aku. Untuk apa ribut soal pacarannya Ken Arok dan Ken Dedes?
Ken Memey : O my god! Sayangku. Sayanngku lupa ya. Yu itu lurah. Harus paham politik, harus paham spionase, harus paham tips dan trik. Lagian saya ini spionase. Ken Dedes adalah potensi yang harus diketahui Tunggul Ametung. Cewek se seksi Ken Dedes tidak boleh jatuh ke tangan pemuda berwatak jahat. En.. aku masih cukup manusiawi. Kalo sampe Ken dedes diambil Tunggul Ametung ketika dia sudah punya pacar, Yu bisa bayangin sendiri, gimana rasanya kalo pacar yu diambil orang. Nah, karena sampe hari ini Tunggul Ametung belum merespon. Tugasku adalah mengawasi supaya Ken Dedes tetap dalam status single.
Lurah Baru : tapi apa mereka beneran pacaran?
Ken memey : apapun itu. Yang jelas aku harus lakukan pencegahan. Aku juga dapet info kalo Ken Arok itu buronan di negaranya. Ada potensi dia ke sini untuk menggalang kekuatan dan merebut pemerintahan.
Lurah : kamu terlalu jauh berpikir sayangku! Janga banyak nonton 007.
Ken Memey : ney..ney..ney! ik tidak sedang menghayal. Ini bener-bener kenyataan sayangku.
LAMPU BERUBAH.
LIMA
Di rumah, Ken Dedes melamun, lalu Taki datang.
Ken Taki : Kok keliatannya nggak ada smilenya nih, kenapa ndes? Eh Ken dedes.
Ken Dedes : nggak tahu ki, rasanya nggak mood aja.
Ken Takli : Huhuyy… jatuh cinta….
Ken dedes : dah dari kemaren-kemaren (tersenyum simpul)
Ken Taki : Rindu-rindu
Ken dedes : dah dari kemaren-kemaren!
Ken taki : Horny-horny…
Ken dedes : (melempar sandal ke pantat ken Taki).
Ken Taki : wow… anarkis! Knapa sih?
Ken dedes tidak menjawab. Ia melanjutkan sesuatu yang sepertinya berputar di otaknya.
Ken Dedes : Kok aku bisa suka sama dia ya? Menurutmu dia jahat nggak sih?
Ken Taki : liat aja alis sama hidungnya. Itu jenis orang-orang bandel.
Ken Dedes : bukan cuma bandel. Dia pemberontak. Pembangkang.
Ken Taki : oh ya. Saya denger slenthingan, pak Lurah sedang mengawasi Ken Arok. Katanya dia dicurigai mata-mata dari negeri Sebrang.
Ken dedes : Kurang kerjaan.
Ken Taki : kenapa dia jauh-jauh ke sini. Hanya untuk jualan kuda.
Ken Dedes : dia buron.
Ken Taki : Buronan?! Pelecehan seksual?.
Kan dedes : dia perampok,
Ken Taki : Jabang bayi henpon mati! Ken dedes, kanapa suka sama orang buahaya kaya gitu? Perampok itu busyet keni…
Ken Dedes : tapi dia perampok baik. Dia merampas orang-orang kaya lalu mengembara dan duitnya dibagi-bagi ke rakyat miskin. Dia sendiri bahkan tak pernah memikirkan punya rumah sendiri.
Ken Taki : oo. I see, dia itu yang bernama Robinhood?
Ken Dedes : Billy The Kid. Dia diburu dan satu persatu teman-temannya telah tewas.
Ken Taki : Cinta memang aneh. Apa yang kamu suka dari dia.
Ken Dedes : Dia pembangkang. Kelihatannya itu seksi. Keren. Dia nggak mudah nurut sama penguasan sekalipun. Toh penguasa juga nggak mesti bijak, banyak enggaknya malah.
Ken Taki : Apa sih yang billy the kid itu sukai dari kamu.
Mpu Purwa : (datang tiba-tiba) Karena putriku cantik.
Dan itu juga kadang-kadang membuat aku khawatir.
Ken Dedes : Kenapa Romo?
Mpu Purwa : aku inget cerita-cerita jaman dulu. Dari Nefertiti istri Fir’aun, Yulaikha istri Yusuf, dan juga Cleopatra. Wanita agung seringkali membuat perselisihan. Kadang-kadang Negara bisa terguncang hanya karena seorang wanita. Dan pembunuhan pertama di muka bumi ini. Juga karena rebutan wanita.
Ken dedes : wanita, memang selalu diukur dari sensual atau tidak, warna kulit, halus kasarnya, cara berjalannya, tutur katanya, lengak-lenggoknya, bahkan bau tubuhnya. Semua adalah segala yang bisa diindera. Semua itulah yang dibentuk oleh kaum lelaki kepada perempuan. Aku tunduk. Dan lebih dari itu, aku tunduk pada kodrat alam.
Ken Taki : Apa ada yang mau ngrebut Ken Dedes?
Mpu Purwa : Yang datang padaku belum ada. Tapi mungkin sudah ada rencana.
Kern Dedes : Kalo memang harus begitu, bukan salah kami para wanita Romo. Jelas kami nggak bisa membelah diri jadi dua. Sementara orang-orang kuno memberi contoh laki-lakilah yang dibagi dengan beristri lebih dari satu. Tapi wanita? Dan kalo mereka para pria sampai berebut, tentu bukan salah kami. Kami memang harus tetap memilih salah satu. Sekali lagi, lebih dari sekedar tunduk pada kepemimpinan lelaki, aku tunduk pada kodrat alam.
Mpu Purwa : ya…
Ken dedes : Sebenernya itu sangat menyakitkan. Tapi apa boleh buat. Kami cuma wanita. Diperebutkan bukan sebagai junjungan, tetapi sebagai barang milik. Alangkah senangnya mereka yang tidak cantik. Yang kulitnya biasa-biasa aja. Yang dadanya tidak mencolok. yang wajahnya biasa-biasa aja. Mereka jauh dari ancaman ini.
Ken Taki : tapi ada ancaman lain, seret jodoh...
LAMPU BERUBAH
ENAM
Pasukan Kuda masuk. Musik menghentak. Dalam gerak digambarkan Pasukan tunggul Ametung dating menyerbu. Ken dedes Diculik untuk dijadikan istri Tunggul Ametung.
Lagu : Kuda turangga
Tunggangan ksatria
Kuda perkasa
Lambang perwira
Kuda kuda pacu kudamu
Pergi-pergi mana kau tuju
Kuda kuda tak punya pusar
Tiada lelah mengejar dan dikejar
Tunggul Ametung : Bakar rumahnya, bunuh bapaknya dan bawa Ken dedes segera!
Rombongan Tunggul Ametung pergi. Mpu Purwa baru saja pulang dari bertapa dan mengutuk Tunggul Ametung.
Mpu Purwa : Tak akan tenang hidupmu nanti Tunggul Ametung. Kamu akan dibayang-bayangi ketakutan dari kecantikan anakku. Kau akan mati juga karena kecantikkan anakku Ken dedes. Tunggulah hari itu. Tunggulah Tunggul Ametuuuung…
Tunggul Ametung : Untuk apa menunggu sampai esok hari. Sekarangpun waktu itu akan datang. Tapi sayang, kutukan itu justru jatuh padamu. (Tunggul Ametung menusuk Mpu Purwa. Lalu bergegas pergi)
Ken Arok datang bersama Mpu Loh Gawe.
Ken Arok : Romo…
Mpu Purwa : Tunggul Ametung membawa Ken Dedes.
Ken Arok : Romo, selamatkan empu Purwa.
Mpu Purwa : Tidak perlu nak. Sia-sia. Racun keris ini sudah menjalar ke seluruh tubuh. Aku titipkan Ken Dedes padamu… Siapa temanmu ini?
Ken Arok : Dia ayah angkatku.
Mpu Lohgawe : Aku empu Lohgawe, Ken Arok anak angkatku. Salam hormatku mpu Purwa. Kedatanganku karena anakku ini memintaku untuk melamarkan putrimu.
Mpu Purwa : Aku sudah merasa sejak pertama bertemu anak ini. Seorang pemuda sebrang yang akan mempersunting putriku. Aku terima nak. Tapi kau harus mengambilnya sendiri. (Mpu Purwa melepas kalung dari lehernya). Ini kalung ibunda Ken Dedes. Bawalah ini saat kau menemui Ken Dedes. Itu sebagai tanda kau telah memegang amanatku untuk membimbing hidupnya.
Ken Arok : Ini pasti kalung sakti, fungsinya seperti surat sakti.
Mpu Lohgawe : Trima kasih Mpu, aku dan anakku akan menjalankan amanatmu.
(Mpu Purwa meninggal)
Ken Arok : Romo! Romo!...
Mpu Lohgawe : Pergilah ke istana Tunggul Ametung.
Ken Arok : Tapi dia juga memburuku.
Mpu Lohgawe : Ubah penampilanmu, ganti namamu. Namamu Ra Bumi. Menghadaplah ke Tunggul Ametung, lalu tantanglah pimpinan prajurit kabupaten. Kalo kamu menang, Tunggul Ametung akan menerimamu.
Nyayian : Nyanyian petaka diperdengarkan
Ken Arok pemuda ambil bagian
Nyanyian dendam telah disentakkan
Ketika sang Putri dibawa pergi
Bulan cerah separuh badan
Tumpahnya darah, direncanakan
Bulan cerah separuh badan
Tumpahnya darah diperdengarkan.
LAMPU BERUBAH
TUJUH
Taman Boboji. Tempat wisata khusus Ken Dedes yang sudah menjadi isteri Tunggul Ametung. Suatu pagi, mereka berdua tampak mesra berjalan mengitari taman.
Ken Dedes : (menyanyi)
Bunga Indah, segar sang angin
Kadang aku tak mau pulang
Seperti kasih memelukku
Taman ini begitu damai
Tunggul Ametung : (menyanyi)
Ribuan bunga ku semai di sini
Hanya untuk permaisuri
Sampai kapanpun engkau mau
Tak seorang berani mengusik
Ken Dedes : Tapi Kanda akan pergi ke Pangjalu, berapa lama.
Tunggul Ametung : Tak sampai hitungan bulan.
Ken Dedes : Jika boleh, aku minta kanda di sini saja. Tak ada bedanya kita takluk atau tidak pada Pangjalu. Negara itu tak mampu memberi pengayoman rakyat Tumapel. Sebaliknya, kanda Tunggul Ametunglah raja kecil di sini.
Tunggul Ametung : Aku hanya tidak ingin Pangjalu curiga. Kita memang tak pernah lagi mengirim upeti. Dan para brahmana yang dimusuhi Kertajaya banyak tinggal di pegunungan-pegunungan Tumapel.
Ken Dedes : Apakah kanda juga ingin memusuhi para brahmana?
Tunggul Ametung : Tidak. Aku tidak ingin memusuhi keduanya.
Ken Dedes : Aku sedang mengandung, jangan sampai bayiku terpengaruh rasa permusuhan di hati kanda.
Tunggul Ametung memeluk perut Ken Dedes, Kebo ijo menjatuhkan pistol ke lantai. Tunggul Ametung menoleh.
Tunggul Ametung : Kenapa Kebo Ijo?
Kebo Ijo : Nggak apa-apa boss. Heheh.. ngantuk.
Tunggul Ametung : semalem ngapain aja kamu.
Kebo Ijo : Anu.. anak saya ospek boss. Minta dibantu buat macem-macem tugas. Tugasnya aneh-aneh boss. Masa....
Tunggul Ametung : Wiss.wiss.. itu bukan urusanku. Yang penting kamu digaji disuruh kerja. Jangan lengah, istriku sedang mengandung, dan besok aku berangkat ke Pangjalu beberapa hari. Cuma kamu yang kuandalkan untuk keamanan Tumapel.
Kebo Ijo : Saya paham Gusti. Jangan khawatir.]
Tunggul Ametung : Oh, ya. Gimana si Ra Bumi. Kalian nggak ada masalah kan?
Kebo Ijo : oo.. netral boss.
Tunggul Ametung : Ra Bumi itu berbahaya sekaligus berguna. Kamu bantu aku bikin dia tetap jinak.
Kebo Ijo : Siap boss. Pokoknya dijamin netral.
Tunggul Ametung : Sekarang, menyingkirlah sebentar. Kami ingin berdua dulu sebentar.
Kebo Ijo : (Diam menunduk, lalu pelan-pelan mengangkat kepala menatap Ken Taki)
Tunggul Ametung : Ke mana telingamu Kebo Ijo?!
Kebo Ijo : E.. Iya boss. Saya disuruh apa?
Tunggul Ametung : Menyingkir sebentar! Tadi nggak dengar ya?
Kebo Ijo : Maaf gusti. Saya melamun. (bergegas pergi, sambil melirik Ken Taki)
Ken Dedes : Taki, temani Kebo Ijo, kamu kan sahabatnya.
Ken Taki : giliran kebo dikasih aku, kalo pejabat aja diembat sendiri. (sambil berlalu)
LAMPU BERUBAH
DELAPAN
Taman Boboji, Tunggul Ametung sedang ada di Pangjalu, Ra Bumi mengajari Ken Dedes naik kuda. Pada saat turun dari kuda, Kain Ken Dedes tersingkap sehingga Ra Bumi sempat melihat daerah kewanitaan Ken Dedes yang bercahaya. Selama penggambaran adegan ini terdengar lagu.
Lagu : Seribu cahaya terpanggil
Seribu berkah mengalir
Agunglah, putri dewi
Mekarlah, sayap mu di bumi ini
Kau ibu segala ibu
Kau ibu semua ratu
LAMPU BERUBAH
SEMBILAN
Ken Arok (Ra Bumi) menemui Empu Lohgawe, menanyakan makna cahaya dari kemaluan Ken Dedes.
Mpu Lohgawe : Kamu lepas dari ibumu sejak kecil. Kamu butuh kasih seorang ibu. Itu tersimpan di alam bawah sadar. Ketika kamu bertemu sama wanita yang punya sifat keibuan, lembut, cantik, dan perangainya halus. Kamu pasti jatuh cinta. Itu adalah untuk memenuhi kehausan kasih ibu.
Ken Arok : Apa jeleknya?
Mpu Lohgawe : Tidak ada jeleknya. Cuma jangan dijadikan istri. Biarkan seperti ini. Jadilah pemuja rahasia saja. Kamu pengawal kabupaten sehingga bisa setiap hari melihatnya. Tak perlu memilikinya.
Ken Arok : Aku minta 2 alasan.
Mpu Lohgawe : Ada sepuluh malah. Tapi oke, akan aku sebut dua.
Ken Arok : Satu
Mpu Lohgawe : Satu. Dia sudah punya suami.
Ken Atok : Dua
Mpu Lohgawe : Dua dia sedang hamil
Ken Arok : Tiga
Mpu Lohgawe : Kamu cuma minta dua.
Ken Arok : Kamu bilang ada sepuluh, tiga.
Mpu Lohgawe : Tiga agak panjang. Cintamu padanya adalah kehausan akan kasoh sayang seorang ibu. Sementara sejak kecil kau hidup tanpa ibu. Maka ada kemungkinan kamu menyalahkan ibumu atas ketidakhadirannya dalam hidupmu. Alam bawah sadarmu membenci kata “ibu”. Kembali ke depan cintamu pada Ken dedes adalah kehausan akan ibu. Jadi kamu bisa menjadi seperti schizoprenia. Separuh dirimu mencintainya, separuh dirimu ingin membalas dendam padanya.
Ken Arok ; Dendam atas apa?
Mpu Lohgawe : Atas ketidakhadiran ibumu dalam hidup masa kecilmu. Understand?
Ken Arok : (tersenyum nyengir karena tak bisa mengerti) ah.. mbuuh…
Hiiii…,hii.. (gemes sambil mengucek-ucek rambutnya).
Mpu Lohgawe : Rok, sebenarnya apa angan-anganmu.
Ken Arok : Nggak tahu
Mpu Lohgawe : Yang kamu tahu saja.
Ken Arok : Aku ingin jadi raja. Suatu hari harus jadi.
Mpu Lohgawe : Prabu Kertajaya di Pangjalu, sudah…
Ken Arok : Stop. Belum selesai…
Mpu Lohgawe : Apanya?
Ken Arok : Curhatnya.
Mpu Lohgawe : oo yaah… tapi ini kopinya habis, sana bikin lagi.
Ken Arok : Ngakalin! Aku terus. Pingsut.
Ken Arok kalah Pingsut, dia masuk mengejok kopi. Dari dalam ia melanjutkan curhatnya.
Ken ARok : Kemaren aku melihat sesuatu yang aneh Pak Dhe Empu.
Mpu Lohgawe : Di mana
Ken Arok : Di taman Baboji.
Mpu Lohgawe : Keanehan apa?
Ken Arok : Waktu aku ngajarin Ken Dedes naik kuda keliling taman. (muncul lagi) lalu selesai dan aku turun duluan untuk membantu ken Dedes turun dari kuda. Waktu itu, dia mengangkat kakinya dan aku melihat…
Mpu Lohgawe : Ahh… Ndesoo..!!
Ken Arok : Sebentar Pak Dhe...
Mpu Lohgawe : Kamu lihat kulitnya to?
Ken ARok : Iya
Mpu Lohgawe : Lihat pahanya to?
Ken Arok : Iya
Mpu LOhgawe : Lihat kemaluannya to?
Ken Arok : Iya
Mpu LOhgawe : Trus kamu terangsang to?
Ken Arok : Iya
Mpu Lohgawe : Lha iya itu namanya Mental Ndesso!
Ken Arok : Sebentar pak dhe. Waktu itu..
Mpu Lohgawe : Ra mutu! Kesatria itu ya nggak plotat plotot cari kesempatan nglaba kaya gitu Rok, Rok.
Ken Arok : Anunya itu bersinar Dhe….
Mpu Lohgawe terkejut.
Mpu Lohgawe : Apanya?
Ken Arok : Kemaluannya bersinar. Sumpah! Aku sampe silau. Dhe…
Mpu Lohgawe : (mendadak duduk dan menerawang jauh)
Apa kamu yakin?
Ken Arok : Sumpah! Itu beneran dhe.
Mpu Lohgawe : (mengambil sebuah kitab tebal) Di sini disebutkan. Akan ada seorang putri desa yang dianugrahi wahyu. Ia akan menurunkan raja-raja di nusantara. Tanda-tanda wanita itu adalah kewanitaannya bercahaya.
LAMPU BERUBAH
SEPULUH
Rumah Mr. Gardner. Seorang pendatang yang ahli membuat senjata Api. Ken Arok mengambil pistol yang sudah dipesannya.
Mr gardner : Silahkan duduk Ra Bumi
Ken Arok : Bagaimana Mister. Apakah pistol pesananku sudah jadi.
Mr. Gardner : Bukankah sudah aku jelaskan. Aku tidak mau sembarangan mempercepat pengerjaan dengan taruhan kualitas. Di nota kan juga sudah ada tanggal jadinya. 5 tahun setelah pemesanan. Sekarang baru 5 bulan. Goblok!
Ken Arok : Lho! Mister!, Ini gimana sih?
Mr. Gardner : Gimana apanya?
Ken Arok : Aku juga sudah bilang. Aku ga peduli sama bentuk atau ukirannya. Ga perlu dikrom. Warna juga ga pengaruh. Yang pentiing jangkauan dan kecepatan tembak. Itu saja. Aduuhh.. ! sekarang sampai mana
Mr. Gardner : (memperlihatkan).
Ken Arok : Aduhh… Ya sudah. Ini aku ambil sekarang.
Mr. Gardner : Coba dulu.
Ken Arok : Tentu saja. Dan kepalamu yang akan dibuat percobaan.
Mr. gardner : Ra Bumi... Apa-apaan ini?.
Ken Arok : Ini teguran untuk maen-maen sama Ra Bumi !!
Kamu pikir kamu siapa Ha! Jagoan?! Ya? Bisa bikin pistol trus sembarangan sama orang?!
Mr. Gardner : Pistol itu belum punya karakter. Kalo kau nekat membawanya. Dia akan mendorongmu menjadi rakus…
Ken Arok : Hhahaha.. ada pistol bisa bikin aku rakus… oo jadi dia ini cacing perut, atau obat perangsang?
Mr. gardner : Terserah apa katamu. Pistol itu…
(ken Arok keburu menembaknya. Bahunya tertembus)
Mr. Gardner : Ra Bumi! Dengar anak muda brengsek! Aku bersumpah.
Siapa menabur perbuatan, akan menabur kebiasaan
Menabur kebiasaan, akan menuai karakter
Menabur karakter menuai nasib
Ken Arok : Hua..ha..ha.. Tukang pistol seperti kamu, paham kata-kata itu? Jadi kamu penganut 7 habbit of higly effective people. Terimakasih telah mengingatkan aku. Aku harus menjadi efektif people. Huh.. (ken Arok menembak kepala Gardner)
Mr. Gardner : (bangkit lagi setelah terjatuh) Baiklah.. kau sendiri yang memanggil nasib buruk. Kelak kau akan mati oleh pistol itu. Dan 7 raja akan mengalaminya (gardner mati)
LAMPU BERUBAH
SEBELAS
Ra Bumi sedang menimang-nimang pistol barunya ketika berjaga di Taman Istana. Kebo Ijo datang.
Kebo Ijo : Wah… barang antik.
Ken Arok : yah.. dari suku Indian.
Kebo Ijo : Ada berapa?
Kern Arok : Satu
Kebo Ijo : Wah.. aku punya kenalan kolektor barang antik. Pasti dibeli mahal.
Ken Arok : (merebut dengan cepat). Nggak dijual.
Kebo Ijo : Buat apa? Mau ikutan jadi kolektor? Buat nembak juga udah ngga bisa.
Ken Arok : (menembakkan ke udara, suaranya menggelegar)
Kebo Ijo : Wow..woo,..woo.. masih jalan. Woooo… great old pistol.
Ken Arok : Kalo kamu suka. Pake aja.
Kebo Ijo : Ha? Buat aku?
Ken Arok : Cuman titip. Itu tetap pistolku, tapi kalo kamu suka. Pake aja dulu. Kapan-kapan aku ambil kalo aku butuh.
(ken Dedes datang)
Ken Dedes : Ada apa?
Ken Arok : Tidak ada apa-apa. Emangnya ada apa?
Ken Dedes : Aku sih ngga ada apa-apa. Makanya aku yang nanya? Di sini ada apa?
Kebo Ijo : Tidak ada apa-apa di sini, apa di sana ada apa-apa?
Ken Dedes : Di sana nggak ada apa-apa juga. Aku ke sini karena kupikir di sini yang ada apa.
Ken Arok : Di sini juga nggak ada apa-apa.
Ken Dedes : Aku denger suara ledakan
Kebo Ijo : ooo… Kami sedang…
Ken Arok : Latihan tembak.
Ken Dedes : Latihan tembak?
Ken Arok : Setahun lebih tak pernah ada huru-hara. Itu berarti setahun lebih kami tidak pernah menembak. Jadi kalo kami nggak sering latihan, bisa-bisa kami lupa cara menembak.
Kebo Ijo : O ya Boss Putri, Kenapa Boss Tunggul Ametung belum juga pulang Boss putri?
Ken Taki : Kan masih ada aku. Jangan khawatir Bo. Kamu tetap akan mendapat perintah setiap hari.
Ken Dedes : Mungkin Kanda Tunggul Ametung banyak urusan. Dia mampir ke kabupaten lain juga mungkin.
Ken Arok : Kami jadi kasihan. Mbak Dedes pasti kesepian.
Ken Dedes : Ah.. istri pejabat harus siap seperti ini. Ehh.. boleh aku minta diajarin menembak.
Kebo ijo : Boleh
Ken Arok : Maaf.. lebih baik jangan.
Ken Dedes : (dengan senyum penuh charisma) Maaf, kamu bekerja untuk suamiku. Jadi lebih baik menurut. Atau kamu bosan dengan pekerjaanmu?
Ken Arok : Ya… Nggak. Ya.. baiklah.
Ken Dedes tersenyum. Dia mulai memegang pistol dan Ken Arok Ken Arok memberi petunjuk. Pelan-pelan Ken Taki dan Kebo Ijo keluar. Ken Dedes dan ken Arok terlihat sangat mesra.
Selama adegan itu. Lagu bergema
Kekasih, sambutlah untai embun
Yang bening, secerah pandangmu
Biarlah rembulan jajakan kisah
Tak terbeli, semahal rindu
Kekasih, lelaplah kau di bahuku
Saat terik, melemahkan jiwamu
Dan saat, pagi memanggil kita untuk
Sejuk dunia cinta,
Angin surga asmara
Milikmu..
Kan Selalu, jadi milikmuuu… kekasih 5x
Ken Dedes berhadapan dengan Ken Arok.
Ken Dedes : Kamu hebat, ganteng, energik. Gadis-gadis pasti tertarik.
Ken Arok : O ya? Apa mbak juga?
Ken Dedes : Heh! Jangan kurang ajar kamu! Aku hanya berusaha akrab sama anak buah suamiku. Itu saja. Menganggap kalian bukan semata-angka-angka jumlah tenaga kerja, tetapi sebagai manusia.
Ken Arok : Kalo saja semua cewek seperti mbak Ken Dedes. Aku sudah bersumpah, Kelak, aku nggak akan menikah kalo nggak ketemu cewek seperti mbak.
Ken Dedes : (tersenyum), Entah kenapa, aku memang suka mengamati kamu. Ketika begini pun, aku merasa seperti sudah mengenal kamu sejak lama.
Ken Arok : (menerawang) barangkali memang begitu.
Ken Dedes : Maksudnya?
Ken Arok : (mengeluarkan kalung pemberian Mpu Purwa) yang sudah kamu kenal sejak lama adalah ini.
Ken Dedes : Ya ampun, ini..? ini kalung…
Ken Arok : Ya. Itu kalung ibumu kan?
Ken Dedes : (menangis) Tapi Buat apa? Tanpa kamu jelaskan seperti inipun aku sudah tahu, bahwa kalian pasti membunuh bapakku waktu itu. Aku pikir Tunggul Ametung yang membunuh. Tapi apa bedanya? Meski kamu yang membunuh toh juga atas satu sumber perintah. Tapi buat apa kamu pamerkan kalung ini?
Ken Arok : Dedes! Kalo aku yang membunuh bapakmu, buat apa aku simpan kalung ini? Apa kamu nggak berpikir bapakmu akan menitipkan kalung ini pada seseorang?
Ken Dedes : (berpikir) maksudnya… bapakku…, ya ampun!, ken… Arok? Apa kamu?,...
Ken Arok : Ya.. ya.. . Aku Ken Arok.
Ken Dedes : Nggak mungkin, gimana bisa?
Ken Arok : Tunggul Ametung juga memburu Ken Arok kan? Tapi prajuritnya tak pernah ada yang bisa melawan aku, hanya Tunggul Ametung yang sanggup.
Mpu Purwa menyuruhku mengejarmu supaya bisa tetap mengawasimu. Lalu aku melamar menjadi pengawal keraton ini. Aku mengecat rambutku jadi hitam. Aku ganti namaku menjadi Ra Bumi.
Ken Dedes : Terima kasih, kamu memenuhi perintah bapakku. Tapi… lalu mau apa sesudah mengawasiku. Aku bahagia kok di sini. Tunggul Ametung tidak pernah sekejam ketika dia menyeretku dari rumah.
Ken Arok : Des… Aku… masih Ken Arok yang dulu.
Ken Dedes : Yang mana? Yang jualan kuda? Yang Playboy?
Ken Arok : Aku bukan Playboy!
Ken Dedes : Trus apa?
Ken Arok : Biasa aja. Mereka cewek-cewek itu aja yang gatelan. Aku sama sekali nggak bermaksud mendekati mereka dan aku juga nggak pernah memanfaatkan mereka!.
Mereka terdiam.
Ken Arok : Aku masih Arok yang dulu. Arok yang memimpikan hidup bersamamu…
PLAK! Ken Dedes menampar muka Ken Arok.
Ken Dedes : Sopan! Kamu pikir kamu bakal jadi pria sempurna dengan begini? Iya?. Dengerin! Aku tidak termasuk cewek-cewek gatel itu.
Ken Arok : Kenapa? Aku cuma menyampaikan amanat bapakmu untuk memberikan kalung itu. Dan sekarang aku cuma menyampaikan isi hatiku apa salahnya?
Ken Dedes : Kamu pikir kamu jadi pria sempurna dengan cara seperti itu. Menyampaikan isi hati yang sudah kadaluarsa. Yang sudah berlalu giliranya. Arok, kamu cuma menyakiti diri sendiri dengan ngomong kaya gitu sekarang. Aku sudah bersuami, punya bayi, hidup mapan dan terhormat. Apa lagi? Aku nggak mau menghianati suamiku, menodai perkawinan suci hanya karena tergiur tampang macho. Tunggul Ametung juga macho. Ia juga ganteng, dia juga gagah dan cerdas karena kalo nggak kaya gitu dia nggak bakalan jadi Bupati. See?
Ken Arok : Aku ngga pernah bisa menghilangkan angan-angan hidup sama kamu Des.
PLAK! Ken Dedes menampar lagi.
Ken Dedes : Apa harus dua kali? Atau tiga kali?
Ken Dedes bermaksud pergi.
Ken Arok : Des, apa kamu nggak pernah mengingatku lagi setelah kamu menikah sama Bupati?
Ken Dedes : Bukan karena sama bupati, karena aku sudah menikah itu saja.
Ken Arok : Apa kamu nggak pernah mengingatku lagi?
Ken Dedes : (diam sebentar, lalu tersenyum) Oh, sori, aku lupa kalo kamu belum pernah nikah. Denger ya. Dalam pernikahan itu ada janji, ada sumpah. Itu ritual suci. Diucapkan atas nama Tuhan. Meski karena terpaksa, tapi Tuhan, langit dan bumi terlanjur bersaksi kan? Bahwa aku tanda tangan dengan mantap. Kalo aku nekat, kelak di akhirat tanda tangan itu akan bicara, cap jempol di buku nikah itu akan bersaksi. Selamat sore (segera bergegas).
Ken Arok : Apa kamu nggak pernah mengingatklu lagi?
Ken dedes : (berhenti tanpa menoleh)
LAMPU BERUBAH
DUA BELAS
Ken Arok menyusup ke kamar Tunggul Ametung lalu menembakkan pistol itu. Bersamaan dengn lagu ini. Juga bergema geguritan tentang tragedy malam itu.
Bunyi kentongan bergema, seketika semua orang berkumpul.
lalu segera digelar Sidang darurat yang dipimpin Ken Arok sebagai Kepala Pasukan Khusus Tumapel. Kebo Ijo langsung ditangkap dan dijadikan terdakwa.
Ken Arok : Seorang pengkhianat telah menyusup ke kamar pribadi Tunggul Ametung. Tunggul Ametung tewas tertembak. Sayangnya, si pembunuh itu sangat bodoh. Ia meninggalkan pistolnya di tempat kejadian. Inilah senjata laknat itu. (menunjukkan pistol)
Semua orang bergumam, itu pistol kebo ijo.
Sesorang : Itu Pistol Kebo Ijo.
Kebo Ijo : Bohong! Ra Bumi, kaulah poengkhianat itu. Kamu nggak cuma mengkhianati Tunggul Ametung yang telah mempekerjakanmu, tetapi juga mengkhianati temanmu sendiri. Kau Iblis!
Ken Arok : Aku tanyakan kepada semua yang hadir di sini. Pistol siapakah ini?
Satu persatu ditanya dan semua menjawab kebo ijo.
Ken Arok : Atas nama pasukan khusus istana sebagai pemegang kendali darurat, aku menyatakan sidang ini dipercepat dengan menyepakati Kebo Ijo sebagai pembunuhnya.
Kebo Ijo : Bangsat! Pistol itu adalah pistol Ra Bumi. Ia menitipkannya kepadaku, dan kemaren sore ia memintanya kembali. Pasti Ra Bumi sendiri yang membunuh Tunggul Ametung. Motifnya jelas, Ra Bumi mencintai Ken Dedes.
Ken Arok : Apakah ada yang berani bersaksi bahwa pistol ini punyaku?
Tarian dari gadis-gadis bertopeng hitam..
Kamilah saksinya
Malam jahanam
Kamilah saksinya
Pistol maut itu
Hey kebo ijo
Prajurit tak tahu diri
Congkak dan kerdil budimu
Kau tembak sendiri tuanmu
Akulah saksinya, raja membangkai
Dan pistol kebo ijo
Ken Arok : Putri, hukuman apa yang pantas untuk Kebo Ijo.
Ken Dedes masih menangis di sudut.
Ken Arok : Tuan Putri, hukuman apa yang pantas untuk Kebo Ijo
Ken Dedes tak menjawab
Ken Arok : Tuan Putri Ken Dedes, hukuman apa yang pantas untuk pembunuh suamimu?
Ken Dedes : Mati…
DUARR… Ken Arok menembak Kebo Ijo.
LAMPU BERUBAH
TIGA BELAS
Di taman, Ken Taki sedang menghibur Ken Dedes yang murung. Nampaknya mereka sedang membicarakan perihal lamaran Ra Bumi.
Ken Taki : Mbok sudah, mau saja. Wong dulu juga situ cinta to?
Ken Dedes : Sekarang lain Taki. cinta itu wajahnya buram seiring bertambahnya umur.
Ken Taki : Wajah cinta itu nggak berubah Jeng. Yang berubah itu cara kita memandangnya. Buktinya, dari dulu sampe sekarang yang namanya istilah “bercinta” itu ya tetap sama saja. Dalam bahasa Inggris, Making Love itu ya gitu, pengertiannya tetap sama.
Ken Dedes : Aku sudah pernah bersuami, punya anak. Ada hal yag lebih dari sekedar cinta yang kualami.
Ken Taki : Apa itu?
Ken dedes : Kasih sayang, pengertian, kesepahaman, pengabdian.
Ken Taki : Apa Ra Bumi nggak bisa memberi itu.
Ken Dedes : Tunggul Ametung mambawaku dengan paksa, bisa dikatakan itu pemerkosaan, tapi toh dengan penerimaan pada nasib. Aku bisa membaliknya menjadi pengabdian. Dia suamiku, dan selagi dia menjagaku setelah perkawinan, aku juga akan memberikan diriku.
Ken Taki : Yup! Itu berarti Ra Bumi juga bisa gitu.
Ken Dedes : Belum tentu. Tunggul Ametung jelas-jelas memburu kekuasaan. Ia ingin membunuh ayahku demi memperkuat pengaruhnya di Tumapel. Hasilnya, ia memperlakukanku sebagaimana halnya istri yang paling dia banggakan. Tetapi Ra Bumi, ia membunuh Tunggul Ametung hanya karena ingin merebutku. Jangan-jangan berakhir sebaliknya. Kalo nyawa menjadi murah di mata politik kekuasaan, itu biasa. Tetapi kalo nyawa menjadi murah di mata cinta dan nafsu?
Ken Arok : Apa sedemikian kotor hatiku Des? (ken arok datang tiba-tiba)
Ken Dedes : Untuk apa kesini?
Ken Taki : (berbisik kepada Ra Bumi) Waduh, semprul! Aku kan lagi mengorek keterangan dan mendesaknya dengan lembut, kamu malah ke sini. Dasar pengacau.
Ken Arok : (Berteriak) Biar saja kacau. Sekarang memang semua sudah kacau. Aku membunuh karena bisikan nafsu untuk memiliki Ken Dedes. (kepada Ken Dedes) Aku pertaruhkan semua, demi kebahagian kita. Tapi sekarang… apa ada yang bisa menjawab pertanyaanku?. Untuk apa aku di sini sekarang?. Junjungan tempat aku mengabdi sudah mati. Siapa yang harus kubela?, siapa yang harus kujaga? Lebih baik aku pergi dari sini.
Ken Dedes : Jika kepergianmu tulus, lebih baik begitu.
Ken Arok : (setelah melangkah berhenti lagi melanjutkan bicara dengan nada seperti putus asa) Tapi pergipun percuma, aku masih akan terus dibayangi penyesalan. Pembunuhan yang sia-sia. Cinta yang menipu.
Ken Dedes : Cinta tak pernah menipu. Kamu yang tertipu oleh cinta.
Ken Arok : Daripada pergi dengan penyesalan, lebih baik aku mengaku saja. Temani aku ke alun-alun besok pagi. Aku akan mengumumkan pengakuan. Bahwa aku yang membunuh Tunggul Ametung. Dan aku harus dirajam sampe mati. Malam ini aku akan menemui satu persatu orang yang pernah aku rugikan. Aku harus minta maaf sebelum aku mati besok pagi. Permisi.
Ken Arok meninggalkan tempat itu dan Ken Dedes mengejar.
Ken Dedes : Ra bumi…
Ken Taki tertawa tak tertahankan.
LAMPU BERUBAH
EMPAT BELAS
Hari perikahan Ken Arok dan Ken Dedes. Pesta sangat meriah.
Lagu : Malam indah bagi cinta
Ken Arok pecinta Ken dedes
Ken dedes putri yang agung
Pemimpin baru nan perkasa
Pahlawan di Singasari
Jayalah raja, Jayalah cinta
Ken Arok Ken Dedes
Titisan dewa-dewi.
Sejahterakan negri
Satukan tanah terpecah.
LAMPU BERUBAH
LIMA BELAS
Ken Arok bercengkerama dengan Ken dedes di dalam kamar pribadi raja. Tiba-tiba Anusapati masuk mendobrak pintu.
Ken dedes : Anusapati. Kau lancang! Berani masuk kamar ayahmu tanpa permisi!
Anusapati : Dia bukan ayahku
Ken Arok : Anusapati! bicara apa kamu?
Anusapati : Ayahku Tunggul Ametung. Dan kau pembunuhnya,
Ken Dedes : Anusapati!
Ken Arok : Anusapati, siapa yang meberimu berita busuk itu? Ken Dedes! Apa yang sudah kamu katakan? (Ken Arok Mencengkeram leher Ken Dedes)
Ken Dedes : Aku nggak tahan Arok. Dia terus mendesak. Dia anakku, anak Tunggul Ametung, dia berhak mendengar kenyataan keluarganya.
Ken Arok : Bangsat! (menampar Ken dedes)
Anusapati : Kukembalikan peluru dari mayat ayahku. Ken Arok, Sang Amurwabhumi, Legenda yang menjijikkan.
Ken Arok tewas tertembak. Anusapati duduk di singgasana. Toh joyo masuk.
Anusapati : Bukan hakmu duduk di situ. Itu warisan Ken Arok, sang amurwabhumi, ayah kandungku. Pergilah!
Ken dedes : Toh joyo, dia saudaramu…
Anusapati tertembak dengan pistol yang sama.
Anusapati tewas. Toh Joyo Duduk di singgasana
Rangga wuni dan Mahesa Cempaka masuk.
Toh Jaya : Ranggawuni, mahesa cempaka. Kenapa datang tanpa aku mengundangmu. Ada apa?
Ranggawuni : Ada sesuatu yang harus diluruskan baginda.
Mahesa Cempaka : Sesuatu yang telah membuat negara ini melenceng.
Toh jaya ; Apa itu? Bagaimana bisa melenceng?
Ranggawuni : Karena susutu telah duduk di tempat yang bukan seharusnya.
Mahesa Cempaka : Dan itu adalah kamu paman. Maafkan kami. Ini semua demi negara
Mahesa Cempaka membunuh Toh Jaya.
Ken dedes menjerit dalam tangis yang tak pernah berhenti. Lalu merebut Pistol itu dan menembak kepalanya sendiri.
Ken Dedes : Semoga kalian tidak berebut di alam kubur.
LAMPU BERUBAH
ENAM BELAS
Sebuah Cafe
Wanita di Café masih duduk sendiri, merokok dan melanjutkan ceritanya.
Wanita di Cafe : Sungguh menyakitkan melihat pistol itu, lalu rambut pirang yang kini banyak berkeliaran itu. Kadang aku menyesal dan bertanya-tanya. Betapa pedih menjadi rebutan pria-pria. Menyaksikan pembunuhan memperebutkan bibirku, pahaku, payudaraku... dan dengan sangat paham bahwa kekerasan itu karenaku. Dan generasi-genarasi kemudian, yang tetap saling bunuh atas dendam tuntutan keadilan untuk ayah yang mereka junjung. Memang sudah sepantasnya mereka membela ayah ayah mereka. Ayah yang dulu saling bunuh memperebutkan aku.
Aku tidak tahu apakah ini lebih baik. Sebab perempuan yang lain terjerumus dituduh tak bersusila meski tak merasa. Hidup bergelimang harta dengan tebusan tidur dengan banyak pria bergani-ganti. Aku tak tahu apakah mereka juga sepedih aku. Tetapi aku yakin, kami sama-sama perempuan. Yang bergerak dengan naluri, bahwa kemerdekaan itu tanda Tanya. Bahwa kami tak mengerti ketika dunia bergejolak karena kami.
Satu-satu keluarga keturunanku saling membunuh. Aku hanya bisa menangis menyaksikan ketidakberdayaanku. Aku cantik dan seksi, tapi lemah dan tentu saja bodoh. Aku menjadi ibu bagi para raja. Karena suamiku adalah raja, bukan karena aku titisan kayangan. Aku ingin hidup lagi sebagai perempuan biasa, seperti sekarang. Andai saja tak ada yang bernama cantik, seksi dan sensual, andai saja itu bukan milikku, … andai kata tak ada sinar dari vaginaku… dan keyakinan-keyakinan rawan itu. Sementara kami, perempuan, tak pernah bisa memilih.
LAMPU REDUP
Lagu Perpisahan: Telah dibuka kisah lama
Telah digugah ujung sejarah
Tutuplah buku, lelaplah kembali
Biarlah dongeng kembali esok hari
Tak ada teladan sempurna
hanya cerita memberi cara
Pilihan ada padamu
nantikan kami jika kau mau
SELESAI
© 2006
M Ahmad Jalidu dan Gamblank Musikal Teater
Posting Komentar